Pada hari Senin, 23 Oktober 2023, LazisMu PPM MBS Yogya menggandeng PR IPM Putri mengadakan “Sedekah Air” di Patuk Gunung Kidul. Acara ini tepatnya dilaksanakan di  Sumbertetes, Jatikuning, Putat, terbah Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Dalam acara “Sedekah Air” ini, LazisMu dan PR IPM Putri memberikan bantuan sebanyak 10 tangki air bersih.

Ustaz Eko Priyo Agus Nugroho selaku Sekretaris LazisMu MBS mengatakan, bantuan ini menyasar rumah warga  ekonomi menengah ke bawah yang tidak mampu membeli air dan tidak mampu memasang PAM.

Ia juga menambahkan, tujuan dari kegiatan ini adalah membantu masyarakat yang kekurangan sumber air bersih di masa kemarau panjang dimana sumber air bersih tidak dapat diakses.

Banyak warga yg harus cari air dari tandon tampungan air swadaya masyarakat yg harus berjalan jauh pakai aqua galon dibopong sampai ke rumah, kata ibu Endang Isti Rahayu salah seorang warga Sumbertetes yg merasakan program bantuan air bersih MBS.

Tim Lazismu sedang berbincang dengan warga Senin, 23 Oktober 2023

Bu Endang juga mengucapkan terimakasih kepada LazisMu MBS yang telah mengadakan program ini. “Semoga LazisMu MBS Yogya semakin maju dan istiqomah.”

Kegiatan ini berlangsung dari pagi sampai siang hari di 4 Dusun di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. [Arif Yudistira]

Hasbuna Mina pondok pesantren MBS Sleman Jogjakarta terus berbenah terutama dalam kemandirian dalam penyediaan pakan lele sebagai penunjang keberhasilan pengelolaan perikanan lele dengan konsep Bioflok. Hasbuna Mina dari minggu pertama semenjak bantuan dari kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) di serah terimakan ke Pondok pesantren MBS Sleman Jogjakarta telah berhasil melakukan panen lele sebanyak 71 kali pananen. Jumlah minggu evektif dari bulan 08 tahun 2017 sampai bulan 01 tahun 2019 ada 72 minggu, melihat fakta tersebut berarti konsep panen dari bioflok yang di proyeksikan mingguan telah berhasil di capai oleh Hasbuna Mina Pondok MBS.

Ditemui di sela-sela aktifitas pengelolaan lele, bapak Jumadi (penanggungjawab hasbuna mina) menuturkan bahwa semenjak budidaya lele bioflok dijalankan telah dilaksanakan panen sebanyak 71 kali panen dengan jumlah total ekor lele adalah 78.349 ekor dengan nilai ekonomi sebesar Rp.  126.736.26. Target kedepan menurut beliau setiap masa panen minimal 2000-2500 ekor lele, hal ini insyaalah bisa diwujudkan karena total 24 kolam bantuan KKP kedepan sudah bisa dimaksimalkan. Untuk mewujudkan hal diatas belau tidak sendirian dalam mengelola hasbuna mina, di bawah menejerial wakaf Center bagian unit ekonomi pondok pesantren beliau senantiasa mendapatkan bimbingan baik teknis maupun non teknis dari menejer wakaf Center Ustadz Nasirul Ahsan Lc. Selain itu juga ada evaluasi mingguan pelaksanaan pengelolaan lele dari kabag catering dan resto yang membawahi langsung hasbuna mina.

Selain itu juga peran dinas perikanan kabupaten Sleman dan juga bimbingan langsung dari Kementrian Kelautan dan perikanan sangat penting dalam keberhasilan pengelolaan bioflok ini. Keberadaan teman-teman komunitas ternak lele juga sangat membantu untuk sharing dan juga tukar informasi dan pengalaman dalam hal pengelolaan lele. Tak kalah penting dari pada hal diatas adalah kegigihan dan keuletan dan juga doa kepada ALLAH SWT  menjadi faktor kunci keberhasilan dalam merintis usaha.

 

Kamis, 24 Januari 2019 pondok pesantren modern (PPM) MBS Sleman Jogjakarta mendapatkan bimbingan teknis pembuatan pakan ikan lele langsung dari Direktorat pakan dan obat ikan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Rombongan datang secara kusus dari Jakarta untuk membimbing unit usaha Hasbuna Mina PPM MBS untuk bisa secara mandiri menghasilkan pakan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pakan lele pondok MBS saja tapi juga warga masyarakat yang membutuhkan pakan lele terang pak Novianto Purnomo kepala seksi pembuatan pakan ikan dan pak Egi Johar Fuad kasubdid pakan buatan KKP.
Selain dibimbing secara teknis pembuatan pakan ikan, tim dari Jakarta juga memberikan edukasi bagaimana pemakaian dan perawatan alat pembuatan pakan ikan yang baik, dan juga mengedukasi kepada pengelola Hasbuna Mina tentang jenis jenis ikan dan kebutuhan pakannya, harapannya kedepan tidak hanya usaha lele tapi juga jenis ikan lainnya bisa di kembangkan. Sehingga kebutuhan protein para santri dari ikan dapat terus di tingkatkan. Sampai berita ini diturunkan proses bimbingan masih berjalan. (rs)

    

 

Gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018 di Grand City Mall Surabaya, 11-15 Desember resmi dibuka. Acara tersebut dibuka Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bak Indonesia Perry Warjiyo, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo sekitar pukul 19.00 WIB.

Melalui ISEF ke-5 ini, BI ingin mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Dalam ISEF 2018 kali ini tema umum yang diangkat adalah “Memperkuat Ekonomi Nasional: Penciptaan Rantai Nilai Halal dan Inovatif”.Dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah, kali ini BI menggandeng seluruh pesantren di Indonesia yang menjadi salah satu rantai nilai halal.

“BI bekerja sama dengan seluruh pondok pesantren di Indonesia yang merupakan salah satu rantai nilai halal,” kata Perry. Tema yang diangkat dalam speech Perry adalah “Fastabiqul Khairat melalui Pesantren sebagai Salah Satu Rantai Nilai Halal”.

 

 

MBS atau Muhammadiyah Boarding School Sleman Yogyakarta adalah salah satu pondok pesantren yang merupakan mitra dari Bank Indonesia juga turut serta hadir dalam gelaran tahunan ini. Sesuai tema yang diangkat, keikutsertaan MBS pada acara yang dihajat Bank Indonesia kali ini terasa sangat istimewa, pasalnya pada moment ISEF tahun ini BI memilih MBS menjadi Role Model untuk pengembangan ekonomi menuju kemandirian pesantren.

Diwakili Ustadz H.M. Nashirul Ahsan, Lc selaku manajer wakaf center menerima penghargaan dari BI. Sebelumnya beliau mempresentasikan unit-unit usaha yang dikelola oleh tim ekonomi MBS melalui wakaf centernya. Dalam presentasinya, ustadz Nashir mengawalinya dengan mengajak audiens untuk flash back ke zaman dahulu, dimana pesantren sejak zaman penjajahan Belanda sudah dikenal sebagai lembaga yang mandiri dan tidak pernah bergantung pada bantuan pemerintah. Namun, lanjut beliau, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kemandirian pesantren semakin berkurang. Melihat fenomena tersebut, ustadz yang juga pendiri MBS ini merasa gelisah. Kegelisahan beliau berlanjut ketika melihat umat Islam yang merupakan mayoritas justru terpuruk dibidang ekonominya. Umat Islam menurut ustadz Nashir masih menjadi obyek ekonomi dan belum bisa menjadi subyek ekonomi.

Ayah dari lima orang putra ini kembali memaparkan Pesantren selama ini termasuk yang kurang menggarap sektor ekonomi, sehingga masih minim pesantren yang mandiri di sektor ekonomi, terangnya. Kita harus jeli melihat setiap potensi yang ada di pesantren, terutama potensi santri yang merupakan pangsa pasar luar biasa. Menurut beliau, kebutuhan santri dalam beberapa hal lebih banyak daripada kebutuhan anak di luar pesantren. Beliau memberikan contoh, misalnya sepatu, sandal, peci, buku, kitab dan lain-lain. Selain santri, tambah beliau jamaah pengajian di masyarakat yang menjadi binaan pondok pesantren juga merupakan pangsa pasar yang potensial, tandasnya.

Untuk mewujudkan kemandirian pesantren sebagai penopang utama pembiayaan pondok pesantren sekaligus sarana dalam pengembangan ekonomi masyarakat serta memberikan sumbangsih kesejahteraan dan tunjangan bagi guru dan karyawan pondok pesantren, sekarang telah berdiri 13 unit usaha yang dikelola oleh Pondok MBS, diantaranya :

  1. Hasbuna Catering
  2. Hasbuna Bakery
  3. Hasbuna Resto
  4. Hasbuna Mina
  5. Hasbuna Grosir
  6. Hasbuna TokoMu
  7. Hasbuna Laundry
  8. Toko Bangunan Hasbuna
  9. Hasbuna Las
  10. Seragam dan Buku
  11. Hasbuna Water
  12. Hidroponik
  13. Homestay

 

Saat ini unit-unit usaha yang ada telah mampu menopang sebayak 60% kebutuhan oprasional Pondok, Insyaalah dengan keseriusan, kerja cerdas, dan tentunya kerja istiqomah unit-unit usaha yang dikelola MBS beberapa tahun kedepan dapat 100% menopang kebutuhan operasional pesantren dan ini adalah cita-cita kemandirian pesantren yang bisa kita wujudkan. (ElMoedarries)

Dalam kesempatan yang sangat baik ini, Rabu 29 Agustus 2018 pimpinan pondok pesantren MBS Sleman Yogyakarta beserta bapak Dody Waluyo (Deputi Gubernur Bank Indonesia) berkenan makan siang bersama. Turut serta jajaran pimpinan BI, bapak Anwar Basori (Direktur departemen ekonomi dan keuangan syariah BI), bapak Suryono (Deputi direktur DR 2 BI), bapak Iwan Setiawan (Diputi direktur departemen komunikasi BI), serta bapak Rahmat Hernowo (kepala kantor perwakilan BI Prop. Banten dan juga Bapak Ismet Isnono (Wakil kepala kantor perwakilan BI Prop. Jawa Barat).

  

 

 

kegiatan di lanjutkan dengan ramah tamah dengan bapak Gita Danu Pranata. S.E., M.M, (Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Ibu Latifah Iskandar (Wakil ketua bidang perdagangandan UMKM PP Muhammadiyah).

  

  

 

Acara ramah tamah di ahiri dengan pertukaran cindra mata antara pondok MBS dengan Bank Indonesia.

  

 

Walau berusia belia unit produksi las Hasbuna makin berjaya. Mungkin inilah gambaran yang pas untuk unit produksi las milik PPM MBS Sleman Yogyakarta. Bermodal semangat para punggawanya unit las tak gentar ditengah minimnya sarana dan prasarana. Hari demi haripun berganti, ditengah bilangan bulan yang tak lama berbagai karya telah tertoreh dan berhasil dibuat dengan baik.

Saat di temui tim redaksi di tempat produksi pak Supriyanto (kabid produksi las) memaparkan bahwa munculnya unit produksi las ini dikarenakan karena kebutuhan pondok pesantren yang semakin hari semakin banyak. Dimulai dengan seperangkat alat las dan gerenda sederhana produksi mulai di jalankan. Beberapa produkpun dapat dihasilkan seperti tralis jendela. Ditengah perjalanan, alhamdulilah unit produksi ini mendapat bantuan berbagai peralatan alat las, Jenset, dan alat alat pengaman kerja, dan juga pembinaan berupa bimbingan teknis dari kementrian perindustrian Republik Indonesia Direktorat Logam Mesin Elektronik dan Alat angkut.

Setelah adanya bantuan dan bimbingan dari kementrian ini hasil produksi terus meningkat  mulai dari tower air, kanopi, pintu dan jendela aluminium, tralis, tempat tidur, rak sepatu, reling tangga, kontruksi baja ringan, menengah sampai berat, pembuatan bio flok, penutup gorong gorong sampai pegangan tangga naik untuk kebutuhan pondok dapat terpenuhi. Dengan 8 orang karyawan terbagi menjadi 4 divisi  yaitu divisi perbaikan, aluminium, konstruksi baja ringan sampai berat dan divisi finising. Model sistem kerja yang diterapkan adalah saling  membantu jika satu bagian sudah selesai bisa membantu bagian lain yang mengalami kesulitan.

Di tempat terpisah Ustad Faqihuddin Lc. sebagai penanggung jawab umum unit produksi hasbuna las memaparkan harapannya kedepan bahwa unit produksi las dapat mandiri, sehingga pengelolaan kedepan dapat lebih provesional. Diharapkan unit produksi ini dapat menjadi salah satu andalan pondok pesantren dalam menopang kemandirian ekonomi pondok pesantren.

  

Sebagai bentuk peningkatan pelayanan dan fasilitas untuk pelanggan, mulai bulan Maret 2018 Hasbuna Grosir meluncurkan program baru yaitu bagi-bagi kartu member untuk pelanggan setia Hasbuna Grosir. Pelanggan dapat memiliki kartu member Hasbuna Grosir sesuai dengan kriterianya. Terdapat dua kriteria yang dapat dipilih yaitu: kriteria pelanggan rumah tangga untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan atau pelanggan toko atau warung untuk kebutuhan belanja barang toko.

 

Untuk memiliki kartu member Hasbuna Grosir sangat mudah, cukup mengisi formulir pendaftaran sebagai member yang telah disediakan di Kantor KOPONTREN MBS Yogyakarta atau langsung mendaftar di Hasbuna Grosir kompleks Pasar Prambanan. Kartu member dapat dimiliki tanpa dipungut biaya alias gratis.

Dengan memiliki kartu member ini, pelanggan akan mendapatkan banyak keuntungan yang diperoleh, seperti point transaksi dan program menarik khusus member. Setiap belanja minimal Rp. 50.000,-, maka akan mendapatkan 1 point transaksi dan berlaku kelipatannya. Point transaksi yang sudah dikumpulkan dapat ditukarkan dengan barang-barang tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan kartu member ini diharapkan pelayanan dan fasilitas kami akan menjadi lebih lengkap, mudah dan memberi rasa nyaman bagi pelanggan dalam berbelanja, sesuai dengan slogan Hasbuna Grosir yaitu: ‘BELANJA MUDAH, MURAH dan BERKAH’

Ditulis oleh : Ustadz Alwi Dwi Purnomo, Staff Marketing Koperasi PPM MBS Sleman-Yogyakarta

 

Ketika bicara tentang kemandirian ekonomi muslim, tentu banyak tantangan yang harus kita hadapi. Mulai dari penguasaan aset oleh warga asing yang terlalu dominan, harga yang tidak stabil, hingga mind set muslim sendiri yang cenderung lebih nyaman menjadi pegawai kantoran dibanding menjadi wirausaha.

Saat ini mau tidak mau, suka atau tidak suka perdagangan bebas sudah berlangsung di Indonesia. Begitu banyak produk asing yang masuk ke pasar Indonesia. Dalam kondisi ini, kita tidak bisa hanya berdiam diri menjadi penonton saja tetapi harus juga menjadi pemain dalam era perdagangan bebas ini. Kita tidak bisa hanya terus menyalahkan banyak pihak, tetapi yang lebih penting dan paling utama adalah mulai bergerak menemukan solusi dari masalah ini.

Solusi kunci dari masalah ini “usaha berjama’ah”. Belajar dari shalat berjama’ah, semua orang baik imam maupun makmum punya satu tujuan yaitu beribadah. Setiap orang menempati posisi masing-masing, ada yang berperan sebagai imam, makmum, muadzin, dan khatib. Shaf dalam shalat harus lurus dan rapat. Ada banyak makna yang bisa kita jadikan pelajaran dalam shalat berjamaah tersebut, yang bisa kita kaitkan dalam kehidupan ekonomi juga. Untuk mengatasi masalah ekonomi, hendaknya setiap muslim harus punya satu tujuan yaitu kemandirian ummat. Setiap muslim harus memegang peran masing-masing, ada yang berlaku sebagai produsen, konsumen, distributor, dan peran lainnya. Aplikasinya adalah, setiap muslim hendaknya mulai membangun usaha yang dimiliki oleh muslim, mendukung kelancaran produk muslim, karyawan yang dipekerjakan juga muslim, dan dibeli oleh muslim. Dengan kata lain usaha yang dibangun berasal dari muslim, dikelola oleh muslim, dan ditujukan untuk muslim juga dengan tidak mengesampingkan non muslim sebagi konsumen/ pelanggan.

Konsep tersebut Alhamdulillah sudah banyak disampaikan dan diperjuangkan oleh para Ulama dan aktivis muslim baik perorangan maupun kelembagaan. Termasuk salah satu yang memperjuangkan hal tersebut adalah Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School Sleman Yogyakarta (PPM MBS Sleman Yogyakarta). Perjuangan tersebut diupayakan melalui banyak unit usaha yang dibangun, yang sebagian besar menggunakan nama Hasbuna. Kemudian disebut Hasbuna Group.

Perjuangan Hasbuna Group dilakukan secara bertahap. Usaha Muslim sudah mulai dibangun dimulai dengan memaksimalkan potensi di dalam Pondok. 3 Unit Hasbuna Mart, 3 Unit TokoMu, Hasbuna Laundry, Hasbuna Catering, Hasbuna Bakery, Unit Buku dan Seragam, Hasbuna Bengkel Las, Hasbuna Farm dibangun untuk memenuhi kebutuhan pondok dan tetap berusaha melebarkan pasar ke masyarakat luas. Untuk usaha yang berada di luar pondok ada Hasbuna Toko Bangunan dan Hasbuna Grosir.

Dengan dibukanya banyak usaha baik yang di dalam pondok maupun di luar pondok, ada banyak manfaat yang bisa kita terima, antara lain :

  • Kepemilikan aset produktif oleh muslim berangsur mulai membesar
  • Masyarakat muslim memiliki pilihan yang lebih banyak untuk belanja di toko muslim
  • Penyerapan tenaga kerja untuk kalangan muslim semakin luas, karena semua karyawan yang direkrut 100% muslim
  • Laba yang diperoleh In Syaa Allah digunakan untuk keperluan pondok pada khususnya serta perjuangan dakwah ke masyarakat pada umumnya
  • Kehalalan produk menjadi lebih terjamin karena dimiliki dan dikelola oleh muslim
  • Semua perjuangan yang telah dilakukan Hasbuna Group tentunya berujung pada satu tujuan mulia yaitu kemandirian pondok pada khususnya dan kemandirian muslim pada umumnya.

    Terakhir, harapan penulis adalah agar setiap pembaca mulai sadar dan membangun usaha muslim untuk kemandirian muslim. Semakin banyak usaha muslim yang dibangun maka akan mempercepat pencapaian tujuan kita Bersama yang tidak lain adalah kemandirian muslim

    Jazakumullah Khairan Katsiran

    Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Kharis, Manager Koperasi PPM MBS Sleman-Yogyakarta

Di usia satu dasawarsa ini, alhamdulillah MBS Sleman Yogyakarta sudah memiliki begitu banyak unit usaha. Mulai yang di dalam pondok ada 3 outlet Hasbuna Mart, TokoMu Putra, TokoMu putri, TokoMu MBS 2, Hasbuna Resto, Hasbuna Bakery, Hasbuna Catering, dan Hasbuna Laundry. Saat ini MBS Sleman melebarkan sayap ke peternakan lele sistem Bioflog dan Bengkel Las. Untuk usaha yang di luar lingkungan Pondok MBS Sleman Yogyakarta memiliki Hasbuna Grosir dan Hasbuna Toko Bangunan.

Tentu saja semua itu hanya bisa didapatkan karena karunia Allah SWT, dan dengan ikhtiar dari semua pihak terkait. Kalau kita perhatikan lahir dan berkembangnya setiap unit usaha, ada satu kesamaan ide dasar yang penting untuk kita ketahui. Ide dasar tersebut adalah bahwa semua unit usaha tersebut dibuka untuk menagkap peluang bisnis di dalam pondok dan sekitarnya. Peluang yang tercipta, harus bisa ditangkap untuk kemajuan MBS Sleman Yogyakarta. Peluang dari Pondok, dikelola oleh pondok, dan untuk kesejahteraan pondok.

Di usia satu Dasawarsa ini, MBS Sleman memiliki lebih dari 2.000 santri dan 200 lebih karyawan. Artinya ada begitu besar potensi yang bisa digali dengan membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan santri mupun karyawan. Belum lagi potensi di luar pondok yang juga sangat penting untuk diperhitungkan.

Santri di MBS Sleman Yogyakarta hanya diizinkan belanja di luar pondok pada waktu-waktu tertentu saja yaitu saat perkeluaran dan perpulangan. Maka kebutuhan makan, minum, MCK, Cuci baju bisa dipenuhi oleh Pondok dengan cara mendirikan berbagai unit Usaha yang sudah saya sebutkan di awal.

Dari contoh di atas, pelajaran yang bisa petik adalah bahwa peluang usaha itu selalu ada dimanapun kita berada. Dimana kaki berpijak, di sana peluang terbuka. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari peluang itu, dan menangkapnya dengan kemampuan yang memadai. Dengan kata lain kita harus “memantaskan diri” untuk menangkap peluang tersebut.

Upaya yang bisa kita lakukan dalam rangka “memantaskan diri” tersebut antara lain :

  • Memahami karakter usaha yang akan kita jalankan, mulai dari peluang, resiko, hingga analisis 5W + 1H (What, Why, Who, Where, When, How)
  • Lengkapi ilmu yang terkait dengan usaha yang akan kita jalankan dengan pelatihan-pelatihan yang relevan
  • Menjalin hubungan kerja dengan berbagai pihak, misalnya supplier, investor dan pihak-pihak lain yang tentunya dengan akad yang syar’i sehingga tidak merugikan salah satu pihak

Tentu masih banyak hal yang harus kita lakukan, tetapi yang paling penting adalah memulainya. Menurut Bob Sadino “usaha yang paling prospek adalah usaha yang dijalankan, bukan selalu dipikirkan dan dipertimbangkan.

Terakhir, harapan penulis, semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi pembaca untuk berkarya.

Jazakumullah khairan katsira

 

Ditulis oleh :’ Ustadz Muhammad Kharis, Manajer Koperasi PPM MBS Sleman-Yogyakarta

Beberapa unit usaha yang dikembangkan dan dikelola PPM MBS Sleman :

HASBUNA TOKO BANGUNAN

 

 

 

 

 

 

HASBUNA BAKERY

 

HASBUNA LAUNDRY

HASBUNA MINA

 

HASBUNA RESTO

 

 

HASBUNA MART

 

HASBUNA GROSIR

 

TOKO Mu

Pada dasarnya evaluasi bertujuan untuk mengukur dan menilai keammpuan peserta didik. Evaluasi bisa dijadikan tolok ukur pemahaman santri terhadap materi tertentu. Untuk bisa memahami materi dengan lebih baik, perlu adanya ujian praktek yang merupakan implementasi ilmu yg dipelajari di kelas.

Pada tanggal 8 dan 15 Maret 2018 diselenggarakan ujian praktek ekonomi untuk kelas 12 IPS. 8 Maret 2018 untuk santri putra, 15 Maret 2018 untuk santri putri. Dalam ujian praktek ini, santri dibagi ke dalam 5 kelompok dan masing-masing kelompok melakukan observasi untuk tema yang berbeda. Berikut pembagian tema untuk masing-masing kelompok :

Kelompok 1 : Manajemen Produksi

Kelompok 2 : Manajemen Pemasaran

Kelompok 3 : Manjemen  Keuangan

Kelompok 4 : Manajemen Sumber Daya Manusia

Kelompok 5 : Manajemen Administrasi dan akuntansi

Observasi dilakukan di Hasbuna Group yang notabene adalah unit usaha yang dimiliki MBS Sleman Yogyakarta. Kelompok 1 mengobservasi proses produksi di hasbuna bakery. Kelompok 2 mengobservasi strategi pemasaran Hasbuna Group. Kelompok 3 mengobservasi pengeloaan uang di Hasbuna Group. Kelompok 4 mengobservasi pengelolaan SDM di Koperasi MBS. Kelompok 5 mengobservasi administrasi dan pembukuan Hasbuna Group.

Setelah observasi selesai, santri ditugaskan untuk mempresentasikan hasil observasi dan terakhir mengumpulkan laporan observasi.

Manfaat yang bisa diambil dari model evaluasi di atas antara lain :

  • Santri bisa melihat langsung manajemen yang diberlakukan di Hasbuna Group yang ilmu itu bisa dijadikan bekal setelah lulus untuk membuka usaha atau bekerja di perusahaan yang diminati
  • Santri lebih memahami manajemen Hasbuna Group yang diharapkan akan menambah kecintaan dan kebanggaan terhadap MBS Sleman Yogyakarta
  • Presentasi berguna untuk mengasah percaya diri santri. Dimana percara diri adalah salah satu modal untuk meraih sukses.

Jazakumullah khairan katsiran

Presented by : Muhammad Kharis, Manager Koperasi PPM MBS Sleman-Yogyakarta

https://mwa.ipb.ac.id/-/slot-gacor/ https://sipil.ft.uns.ac.id/wp-content/plugins/