Mengutip dari buku ”Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan” yang diterbitan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kali ini kita mencoba lebih dekat dengan tokoh perempuan Muhammadiyah yang sangat inspiratif yaitu SITI UMNIYAH.

Siti Umniyah dilahirkan di Kauman tahun 1905, ia adalah putri dari KH. Sangidu atau Kyai Penghulu Muhammad Kamaludiningrat sahabat seperjuangan KH. A. Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah. Sebagai ketua siswa Praja wanita (SPW) 1919-1929. Ia adalah murid pertama Madrasah Diniyah Ibtidaiyah di rumah KH. A. Dahlan Bersama Siti Munjiyah, dan pelopor Pelembagaan Pendidikan Usia Dini. Ia adalah salah satu tokoh perempuan yang bisa merasakan langsung pendidikan yang diajarkan oleh KH. A. Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan.

KH. A. Dahlan terus berusaha mengkader Siti Umniah untuk menjadi pemimpin. Dimulai dari Sekolah Siswa Praja Wanita (selanjutnya disingkat SWP), adalah embrio lahirnya Nasyiatul Aisyiyah. Disanalah Siti Umniah dan teman-temannya berhasil mewujudkan sekolah taman kanak-kanak Bustanul Athfal. Kecintaannya terhadap Pendidikan tidak hanya berhenti pada mendirikan sekolah saja tapi juga atas persetujuan orang tuanya memberikan rumahnya untuk tempat Pendidikan ini.

Siti Umniyah dalam buku diatas di tuliskan sebagai perempuan yang pemikirannya sangat maju. Ia memandang bahwa dalam Pendidikan perempuan usia muda harus dipisahkan sesuai dengan usianya untuk efektifitasnya. Dalam kepemimpinannya di SWP beliau mulai menerapkan Tholabussaa’adah untuk siswa usia 15-18 tahun, Tajmilul Akhlaq untuk siswa usia 10-15 tahun, Jamiatul Athfal untuk siswa usia 7-10 tahun, dan Dirasatul Banat untuk siswa usia TK sampai masuk SD.

Beberapa torehan prestasi yang tercatat di tinta emas seperti bersama sama SWP beliau mendirikan taman kanak-kanak Bustanul Athfal, mendirikan mushola Aisyiyah. Beliau memfokuskan kelompok -kelompok pendidikan diatas berbeda satu dengan lainnya baik di fokus pembelajarannya dan termasuk metode pembelajarannya.

Siti Umniyah mengembangkan konsep dakwah Huis Bezoek yang di kembangkan beliau sejak tahun 1941. Konsep dakwah ini adalah merupakan dakwah dari rumah ke rumah, dengan mengedepankan silaturahmi baik dengan teman-teman sebaya, saudara, orang yang dituakan dan juga dengan murid-muridnya. Semangat silaturahmi ini merupakan kekuatan tersendiri dalam berdakwah.

Konsep dakwah ini beliau tetap laksanakan meski sudah tidak menjabat sebagai pimpinan di Aisyiyah. Sentuhan secara personal ini dirasa evektif untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah. Selain itu Siti Umniyah dikenal juga sebagai seorang penulis. Ia menulis apa saja yang bisa ia tulis mulai dari perkembangan anaknya, pendidikan anaknya sampai bagaimana mengatasi jika anak sakit. Kepiawaiannya dalam menulis juga dibuktikan dengan korespondensinya dengan Kahar Muzakir dan KH. A. Bakir dalam Bahasa Arab. (red)

Sumber:

Buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan” terbitan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Foto Siti Umniyah: http://www.aisyiyah.or.id/id/page/tokoh/hal/8.html

Foto TK Aisyiyah Bustanul Athfal: https://klikmu.co/seabad-tk-aisyiyah-bustanul-athfal-1919-2019-mendulang-generasi-emas/

 

Mengutip dari buku ”Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan” yang diterbitan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kita mencoba lebih dekat dengan Dr. Haji Abdul Karim Amrullah selanjutnya di tulis AKA. Ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia dan Pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam Modern Pertama di Indonesia.

Lahir dengan nama Muhammad Rasul di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat 10 Februari 1879, wafat di Jakarta 2 Juni 1945, beliau dikenal sebagai Haji Rasul. AKA adalah ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia dan Pendiri Sumatera Thawalib, sekolah Islam Modern Pertama di Indonesia. Beliau memperoleh gelar Doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo.

Ditulisakan dalam buku diatas ada tiga hal pokok persoalan yang menjadi pemikiran atau perhatian Dr. Haji Abdul Karim Amrullah yaitu, persoalan Keagamaan, Pendidikan, dan Politik. Beliau adalah tokoh Minangkabau yang terkenal sangat responsif terhadap kebijakan pendidikan dan politik Belanda di zaman kolonial.

Dalam bidang Pendidikan, Haji Abdul Karim Amrullah (AKA) berpandangan bahwa umat Islam harus dicerdaskan dan diberi Pendidikan yang maju. Dalam kepentingan gerakan pembaharuan ini, AKA mendukung dan merestui didirikannya perkumpulan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang tahun 1918. Pada tahun 1920, AKA mempelopori bedirinya organisasi Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) dan sekaligus menjadi ketuanya. Tahun 1929 beliau mendirikan sekolah yang diberi nama Tabligh School di Kauman Padangpanjang. Pada perkembangnnya sekolah ini berkembang menjadi Kulliyatul Muballighin Muhammadiyah Padang Panjang atau disingkat (KKM) pada tahun 1935. Beliau juga menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam masalah Ordonansi sekolah liar di wilayah Minangkabau tahun 1932 yang sangat merugikan masa depan Pendidikan kaum Pribumi.

AKA dikenal juga sebagai tokoh yang berperan besar dalam mempelopori dunia penerbitan dikalangan umat Islam Indonesia, khususnya dalam bentuk majalah dan buku-buku. Beliau berperan dalam lahirnya majalah Al-Imam (1906), Majalah al-Munir (1911), Majalah Al-Ittfaq dan Almanak Lima Guna sebagai majalah PGAI.

Semenjak tahun 1906 AKA menetap di kampung halamannya, sungai Batang, Maninjau, Sumatra Barat. Disana  beliau mengajarkan Ilmu pengetahuan Agama Islam dengan nuansa yang baru. Berikut data murid-murid yang belajar dengan beliau yang tercatat di buku diatas seperti Abdul Tunaro, H. Yusuf Amrullah, A.R. Sutan Mansyur, H. Jalaluddin Thalib, Haji Muhtar Lutfi, Hasim El Husni, Adam Balai-Balai, Rahman El Yunusiyah, Rasuna Said, HAMKA (putranya Sendiri). (red)

Sumber:

Buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan” terbitan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah

ilustrasi foto dari: https://langgam.id/syekh-dr-abdul-karim-amrullah-ulama-pendidik-orator-dan-penulis/

Ilustrasi Foto Thawalib School: https://merahputih.com/post/read/haji-abdul-karim-amrullah-tokoh-minang-pelopor-gerakan-islam