Isa Jati Wibowo, santri kelas XI SMA MBS kembali mengharumkan nama pesantren setelah meraih juara 1 dalam gelaran Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat Provinsi DIY untuk cabang pencak silat putra yang diselenggarakan di Gedung Olahraga Amongrogo, Yogyakarta, Jumat, (18/3).

Mewakili kontingen kabupaten Sleman, Isa berhak menyandang medali emas setelah bertanding melawan pesilat tuan rumah kota Yogyakarta di babak final kelas F putra 50-63 kg. Dia bercerita pertandingan yang dilalui di kejuaraan tersebut cukup berat. Isa mengaku tidak mudah untuk menyisihkan lawan-lawannya yang memiliki kekuatan sangat bagus. “Lawan-lawannya lebih skillfull dan punya teknik yang bagus dari saya. Tapi Alhamdulillah, saya bisa sampai final. Mengalahkan pesilat Bantul pada babak pertama. Kemudian di babak selanjutnya mengalahkan pesilat Kulonprogo. Di final saya bertemu dengan pesilat tuan rumah Yogyakarta,”kata Isa.

Dalam gelaran POPDA tingkat provinsi kali ini, MBS mengirimkan dua pesilat terbaiknya, selain Isa ada nama Arief Reksa Pambudi yang juga berhasil mempersembahkan medali perak. Maju di kelas C putra, santriwan kelas X ini harus puas menempati urutan kedua, setelah di final harus mengakui keunggulan lawannya.

Dihubungi lewat sambungan telepon usai pengumuman kejuaraan, Kepala SMA MBS, ustadz Roiq, Lc mengaku bangga dengan prestasi yang diperoleh peserta didiknya dan berharap agar kemenangan ini semakin menjadi pelecut semangat agar bisa sukses pula di tingkat selanjutnya. “Allhamdulillah SMA MBS kembali membawa pulang kemenangan dalam POPDA tingkat provinsi tahun ini. Semoga prestasi ini semakin memacu semangat ananda Isa Jati Wibowo untuk terus berlatih dan berlatih menyambut gelaran serupa tingkat nasional,” kata ustadz Roiq.

Sementara itu, ditemui usai penerimaan piala, Isa mengucap syukur atas kemenangan yang ia dapatkan. Dirinya berterimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung, memotivasi dan menyemangati dirinya hingga akhirnya mampu menjadi juara.

“Terima kasih untuk semuanya, terlebih pada orang tua dan pelatih saya sehingga kemenangan ini bukan hanya menjadi impian semata, namun benar-benar dapat saya realisasikan. Mohon doanya, semoga saya kembali membawa nama harum MBS di POPNAS ,” pungkasnya. (ElMoedarries)

Meningkatkan kualitas sekolah menjadi sekolah unggul dan selalu mendapatkan kepercayaan masyarakat memang perlu terus diupayakan pihak penyelenggara pendidikan di tengah persaingan global dan perubahan-perubahan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, Majelis Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah gelar workshop akselerasi SMA/MA Muhammadiyah unggul yang bertajuk “Merancang Strategi dan Sinergi Meretas Pendidikan Muhammadiyah Unggul Berkemajuan” sebagai upaya meneguhkan semangat dan komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Workshop tersebut diadakan di Syari’ah Hotel Lor In Solo 15-17 Oktober 2021. Sebelas SMA/MA yang telah ditunjuk sebagai pilot project sekolah akselerasi menjadi peserta workshop. SMA Muhammadiyah PK Kotabarat Solo, SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta, SMA MBS Sleman Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, SMA Ahmad Dahlan Metro, SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin Gunungkidul dan SMA Taruna Muhammadiyah Muntilan Magelang diharapkan menjadi pioneer dan percontohan sekolah SMA/MA unggul. Pada kesempatan tersebut, SMA MBS yang menjadi salah satu peserta workshop mengirimkan tiga perwakilannya. Digawangi Kepala Sekolah MBS, ustaz Roiq, Lc, Kabag Kurikulum dan Kabag Bimbel juga turut serta mendampingi acara yang digelar selama tiga hari itu.

Dr. H. Sungkowo Mudjiamano, M.Si., selaku Pimpinan Majlis Dikdasmen Pimpinan Pusat  Muhammadiyah didapuk membuka acara. Di hadapan peserta, Pak Sungkowo mengajak kepada guru-guru dan kepala sekolah untuk menjaga dan meningkatkan kualitas keunggulan sekolah. “Sekolah unggul bisa disebut istilah lain sekolah efektif. Sekolah unggul yang memiliki komitmen untuk berprestasi tinggi baik secara akademik maupun non akademik,” paparnya.

Kegiatan yang diinisiasi atas keresahan ketua PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir akan belum adanya sekolah atau madrasah Muhammadiyah yang menduduki peringkat atas UTBK nasional ini secara garis besar membahas seputar strategi penguatan mutu sekolah untuk mencapai peringkat 100 besar UTBK nasional.

Beberapa materi penting disampaikan pada gelaran workshop kali ini. Dimulai dari arah pengembangan mutu pendidikan muhammadiyah hingga strategi peningkatan mutu pendidikan muhammadiyah mewarnai giat acara workshop di kota Bengawan. Selain itu, presentasi dari Kepala Sekolah juga menjadi bagian inti dari workshop.

Kepala Sekolah SMA MBS, ustaz Roiq, Lc dalam kesempatan presentasinya mengaku bersyukur MBS bisa menjadi bagian dari pilot project sekolah unggulan. “SMA MBS akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi target yang telah ditetapkan PP Muhammadiyah. Beberapa program yang telah disusun tim diantaranya penguatan SDM, motivasi, pembiasaan soal dan pendampingan akan kita kawal. Harapannya, SMA MBS dapat menduduki peringkat 100 besar UTBK nasional tahun depan, jelasnya penuh yakin.(ElMoedarries)

Bismillah, rasanya masih tidak pantas jika harus membuat tulisan ini dan dibaca oleh banyak orang, tetapi Insya Allah semoga dari tulisan ini, bisa menjadi refleksi untuk pembaca maupun penulis sendiri khususnya mengenai apa yang sudah terjadi hingga dapat berdiri saat ini.

Melanjutkan pendidikan di pulau Bali, sama sekali tidak terbayang dan terencana saat itu, tetap dengan rencana dan mimpi kecil, yaitu melanjutkan dunia perkuliahan di Jogja atau di tempat asal dan kembali di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, karena rasanya tidak perlu harus khawatir, untuk nanti singgah, diskusi dan makan apa. Tetapi ternyata, doa saya untuk ditempatkan di tempat terbaik menurut-Nya, di tempat yang dapat menjadikan saya lebih baik, dan lebih ikhlas dalam berproses di ijabah. Dan di Bali lah tempat tersebut.

Ingat sekali, memulai masa orientasi studi dan pengenalan kampus saat itu dengan tangisan. Bagaimana tidak, perbedaan kultur, dan perubahan lingkungan yang drastis harus dilalui sendiri, karena saat itu tidak ada teman-teman SMA yang mendaftar di kampus yang sama. Sempat putus asa, dan berniat untuk pulang dan memulai perkuliahan di tempat lain. Tetapi bukannya Allah tidak akan membebani hambanya lebih dari kemampuannya? Saat itu, saya berfikir harus mencari “rumah”, untuk menjadi tempat saya pulang agar lebih tenang dan merasa aman. Alhamdulillah, menjadi kader Muhammadiyah secara “biologis” tidak membuat saya bingung harus mencari “rumah” yang bagaimana dan seperti apa.

Pencarian “rumah” dimulai dari mengunjungi kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Badung, tetapi ternyata nihil, tidak ada orang satupun di sana. Pencarian terus berlanjut, sampai akhirnya saya ditemukan dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Denpasar di instagram. Sedikit saya gambarkan, saat itu tidak ada poster penerimaan kader baru, tidak ada hiruk piruk panitia membuat Masta atau Masa Ta’ruf (masa perkenalan di IMM), dan postingan di instagram nya juga masih terhitung jari, sangat berbeda jika dilihat dan dibandingkan dengan IMM lainnya. Apalagi saat itu, teman-teman seangkatan saat SMA juga sedang berlomba lomba untuk menunjukkan twibbon Mastanya.

“Assalamu’alaikum kak, apa boleh gabung di IMM?” seperti itu kurang lebih kalimat yang saya awali untuk membuka percakapan lewat Direct Message di instagram IMM kota Denpasar. Setelah beberapa hari menunggu untuk mendapat balasan, alhamdulillah pesan saya terjawab dan dijadwalkan untuk langsung ke kantor PDM Kota Denpasar katanya. Setelah sampai di sana, ternyata hanya ada 4 orang kakak-kakak IMM dan dikenalkan bahwa mereka merupakan anggota Pimpinan Cabang IMM Kota Denpasar. Dan ternyata memang hanya ada 5 orang di IMM tersebut, beda jauh ya jika dibandingkan dengan jumlah yang ada di komisariat umumya.

Beberapa bulan setelah pertemuan tersebut, alhamdulillah kegiatan pertama saya saat itu dengan IMM adalah Masta. Lokasinya saat itu di Pantai Nyang-Nyang Bukit Jimbaran. Saat tiba di sana, ternyata yang datang hanya 4 kakak IMM yang kemarin, dan 3 kader baru termasuk saya, iya hanya 7 orang. Masya Allah, benar-benar dikasih tempat yang saya bisa belajar ikhlas di setiap prosesnya. Mulai saat itu, saya dan kader baru lainnya diperkenalkan, jika kami berada di bawah naungan Pimpinan Cabang IMM Kota Denpasar, kenapa bukan di bawah naungan komisariat seperti pada umumnya? Jawabannya simpel, karena tidak ada orang.

Lambat laun kami berproses dan berjuang bersama, alhamdulillah di tahun pertama ber-IMM saya resmi dilantik menjadi Sekretaris Bidang Tabligh dan Keislaman. Saat teman-teman seangkatan SMA masih berkecimpung di ranah komisariat, saya dengan cepatnya sudah duduk di bangku Pimpinan Cabang. Lagi-lagi ya memang karena belum ada komisariat, belum ada orangnya lebih tepatnya. Sebelum penerimaan mahasiswa baru, ternyata kakak-kakak IMM memiliki rencana untuk membuat komisariat berdasarkan geografi kampus di Denpasar saat itu. Terdapat 4 kampus besar di daerah Denpasar, antara lain yaitu kampus Udayana Bukit Jimbaran, kampus Udayana Denpasar, STIKOM Bali, dan kampus Saraswati. Berangkat dari semangat ber-fastabiqul khairat, alhamdulillah terbentuklah 3 komisariat untuk menaungi ke-4 kampus tersebut.

Pimpinan Komisariat Al-Khawarizmi menaungi kampus Udayana bukit Jimbaran, Pimpinan Komisariat As-Shaff menaungi kampus Udayana Denpasar dan kampus Saraswati, dan Pimpinan Komisariat Pandawa menaungi kampus STIKOM Bali. IMM Kota Denpasar saat itu menjadi salah satu organisasi eksternal di kalangan kampus, sehingga bisa dikatakan untuk mencari kader perlu perjuangan dan tentunya sabar yang luas. Berbagai strategi dan cara saat itu dirancang agar penerimaan kader mahasiswa baru bisa di gelar di halaman rektorat kampus saat mahasiswa baru datang, namun perizinan dan pengurusan birokrasi kampus lah yang membuat kami sulit untuk melangkah, belum lagi kata terakhir (Muhammadiyah) di belakang organisasi ini kesannya menjadi lebih “berat” jika dibandingkan dengan organisasi mahasiswa islam lainnya.

Mulai dari ikut bazar jualan di kampus, titip poster untuk ditempel di setiap fakultas dan berbagai cara lainnya kami jalani untuk mendapatkan kader baru. Usaha tidak mengkhianati hasil, alhamdulillah, walaupun tidak terlalu banyak yang mendaftar, di tahun 2019 IMM Kota Denpasar berhasil mendapat sekitar 20 orang kader. Dari 20 kader tersebut kemudian masuk ke masing-masing komisariat berdasarkan asal kampusnya. Alhamdulillah, saat itu saya diamanahi menjadi ketua umum Pimpinan Komisariat Al-Khawarizmi Bukit Jimbaran. Menjadi ketua bukanlah hal yang mudah, rasanya baru kemarin saya menangisi dan putus asa dengan ini semua, kemudian mencari “rumah” untuk pulang, sampai akhirnya sekarang saya harus menyediakan “rumah” tersebut bagi adik-adik kader baru.

Berbagai kegiatan di komisariat saya rancang agar kader baru tidak merasa bosan dan menyesal setelah gabung di IMM. Ide pertama yang ingin saya buat yaitu membangun pelatihan Tapak Suci di daerah Bukit Jimbaran. Ide ini berangkat dari keresahan saya pribadi, yang sebenarya saya lahir dan besar juga berawal dari Tapak Suci. Awalnya, saya mulai mencari tempat latihan Tapak Suci di Denpasar, mendapatkan informasi bahwa terdapat 2 tempat latihan. Namun tempat latihan pertama ternyata mereka hanya fokus latihan untuk ekstrakulikuler di sekolah Muhammadiyah saja, dan tempat latihan kedua memiliki jarak yang cukup jauh dengan tempat saya tinggal, serta waktu latihan yang tidak cocok dengan jadwal.

Akhirnya saya putuskan untuk coba membuka tempat latihan sendiri di daerah Bukit Jimbaran. Memiliki bekal sabuk biru dan jurus-jurus yang didapatkan selama di Pondok Pesantren, membuat saya percaya diri bahwa saya mampu mengambil langkah tersebut. Teman-teman PC IMM Denpasar juga sangat mendukung untuk diadakan latihan tersebut, hitung-hitung juga menjadi tempat latihan awal untuk teman-teman IMM. Namun ternyata latihan Tapak Suci yang diadakan tidak berjalan lama, kurangnya SDM serta tempat latihan yang cocok menjadi kendala utama. Akhirnya saya berusaha masuk dan bekerjasama dengan beberapa UKM pencak silat yang ada di kampus untuk proses perizinan dan latihan bersama, tapi ternyata proses ini tidak dapat berjalan lama, karena beberapa kendala yang terjadi baik itu di internal teman-teman juga hal lainnya.

Sempat merasa kecewa dan gagal, karena saya tidak dapat membangun dan mengajak teman-teman untuk latihan Tapak Suci bersama, namun bukan berarti saya sudah berhenti untuk ber amar ma’ruf, karena masih ada jalan dakwah di IMM yang terbuka luas. Perjalanan di IMM semakin berwarna dan banyak pelajaran yang dapat saya ambil, organisasi yang memiliki tagline Cendikiwan Berpribadi ini harapannya memiliki tujuan mulia yaitu setiap kadernya dapat memperbaiki dan membangun masyarakat di sekitarnya, dengan melahirkan produk gagasan dan ide keilmuan yang tentunya memiliki kepribadian seorang muslim yang tinggi .

Usaha yang terus dilakukan dari kaderisasi serta menguatkan dan menyatukan ideologi bersama dalam menjadi kader Muhammadiyah ternyata tidak-sia-sia, alhamdulillah sampai saat ini anggota IMM di seluruh kota Denpasar terus bertambah. Pembentukan Pimpinan Cabang IMM baru juga terus direalisasikan, hingga alhamdulillah sampai saat ini di Bali memilki 4 Pimpinan Cabang IMM antara lain yaitu Pimpinan Cabang IMM Denpasar, Pimpinan Cabang IMM Buleleng, Pimpinan Cabang IMM Tabanan, dan Pimpinan Cabang IMM Badung. Sebagai penutup, semoga pembaca dapat merasakan kebahagiaan dari apa yang penulis tuliskan, termasuk banyaknya kekurangan dalam penulisan ini yang sangat jauh dari kata sempurna, penulis memohon maaf sebesar-besarnya.

 

Nuun wal qalami wamayasturuun, billahi fii sabililhaq fastabiqul Khairat

Atlet Kalimantan Timur alumnus Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School Sleman Yogyakarta, Imam Wahyudi menorehkan prestasi gemilang pada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 di Provinsi Papua.

Berkat kepiawaian Imam, Kalimantan Timur bisa memboyong medali emas dan satu perunggu pada cabang olahraga kabaddi dari kota Jayapura. Juara tersebut didapat pada nomor 7 on 5 (juara 1) dan freestyle (juara 3).

“Alhamdulillah, sangat bersyukur sekali bisa meraih medali emas di gelaran PON yang pertama. Meski hanya bersifat eksibisi, ini merupakan raihan terbaik dan memuaskan, ujar Imam.

Imam merupakan alumnus Pondok Pesantren MBS Sleman angkatan ke-4 yang lulus pada tahun 2019. Selama mengenyam pendidikan di MBS, Imam yang saat ini sedang menempuh pendidikannya di jurusan Pendidikan Olahraga Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur ini sering menjadi langganan juara pencak silat.

Atlet pencak silat MBS yang terkenal dengan senyuman khasnya ketika bertanding ini selalu menjadi andalan lumbung medali dalam setiap event lomba pencak silat. Namanya sering dipanggil di urutan pertama  oleh dewan juri di akhir sesi pertandingan. Ajang POSPEDA (Pekan Olahraga dan Seni Santri  Pondok Pesantren Daerah), POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) , YKTC dan event lomba lainnya menjadi kenangan manis yang tak terlupakan bagi mahasiswa semester 5 ini.

Dia mengatakan, untuk bisa lolos seleksi tim kabaddi Kaltim sangat ketat. Harus bersaing dengan para atlet lainnya yang rata-rata berasal dari basic cabor gulat.

Kendati demikian, anak kedua dari empat bersaudara pasangan H. Eddy Akhmandi dan Hj. Fitriani ini bernasib mujur. Imam menjadi satu-satunya atlet kabaddi Kaltim yang lolos Training Center dengan basic pencak silat.

Sebagai atlet yang menekuni cabang olahraga pencak silat, Imam mengakui bahwa ia butuh proses untuk bisa benar-benar beraksi sebagai atlet kabaddi ketika pertandingan. Terlebih Imam juga masih menekuni latihan pencak silat.

“Dulu pernah tidak sengaja lawan kepukul saat sedang kontak, namun seiring waktu saya mulai bisa mengontrol gerakan dan tak lagi lupa,” ujar Imam.

Meski sudah menjadi bagian dari kontingen Kalimantan Timur lewat cabang olahraga kabbadi, Imam ternyata masih menyimpan hasrat untuk berprestasi di olahraga yang menjadi asalnya.

“Saya masih ingin tampil lewat cabang olahraga pencak silat. Karena bagaimanapun, pencak silat wabilkhusus Tapak Suci adalah cabang tempat saya dibesarkan. Saya ingin bisa berprestasi di sana,” tutur Imam.

Kabbadi adalah cabang olahraga baru yang dipertandingkan di PON Papua. Di perhelatan ini olahraga permainan asal India yang sepintas terlihat mirip dengan gerobak sodor dan benteng tersebut masuk kelas eksebisi.

Walaupun kategori baru, di ajang ini diikuti oleh 9 provinsi. Di Indonesia, kabbadi masih baru. Bali menjadi provinsi pertama yang melakukan uji coba cabang olahraga ini. Disusul Kalimantan Timur.

Menggeluti kabbadi sejak pertengahan 2019 lalu, Imam Wahyudi yang dipercaya menjadi defender tim akhirnya bisa membawa Kaltim sebagai juara 3 umum, serta menyingkirkan 6 provinsi lainnya. Jerih payah dan perjuangannya dua tahun lalu akhirnya berbuah manis.(ElMoedarries)

 

 

Prestasi demi prestasi berhasil dicetak oleh santri MBS Sleman, kali ini pada cabang olahraga Pencak Silat Puteri. Santriwati bernama Maulida Alfi Nadiya berhasil meraih juara 1 Pencak Silat puteri tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberhasilan tersebut membawa Maulida maju ke tingkat Nasional mewakili DIY dan akan bersaing dengan peserta dari 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Di masa pandemi, Kompetisi Olahraga Siswa Nasional (KOSN) jenjang SMA/MA tahun 2021 cabang olahraga pencak silat yang merupakan salah satu program Pusat Nasional Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan secara daring (online) mengacu pada protokol kesehatan.

Tampil di kelas kata perorangan, dara kelahiran Klaten ini mengokohkan dirinya di puncak klasemen pool B sekaligus meraih tiket lolos ke tingkat nasional dengan mengumpulkan total nilai 413. Menjadi satu-satunya wakil dari pesantren yang berhasil maju ke tingkat nasional menjadi kebanggaan tersendiri. Kesuksesan santriwati MBS maju ke tingkat nasional membuktikan kalau santri juga bisa berprestasi di dunia pencak silat. Hasil ini juga menjadi sinyal positif bahwa Tapak Suci putera Muhammadiyah selalu eksis melahirkan atlet-atlet yang layak diperhitungkan.

Di ajang ini dua atlet dari MBS  meraih medali kejuaraan. Masing-masing Maulida  (emas) dan Nurul Khairunnisa (perak). Pelatih tapak suci sekaligus kabag kesiswaan putra MBS ustaz Ikhwan Anshori mengaku bahagia karena Maulida menjadi satu-satunya wakil pondok pesantren yang berhasil lolos maju ke tingkat nasional. Alhamdulillah dua atlet mendapatkan medali kejuaraan dan terbukti hasil tidak mengkhianati usaha,” katanya.

Dikatakan ustaz Anshori, berdasarkan panduan KOSN peserta peringkat 1 dari tiap pool selanjutnya akan mengikuti babak final atau maju ke tingkat nasional.  MBS sukses menempatkan dua wakilnya di pool B dengan status peringkat 1 dan runner up. Dengan demikian, MBS hanya mengirimkan satu wakilnya untuk maju ke tingkat nasional. Terlepas dari hasil itu, anak-anak telah memberikan kemampuan terbaiknya, tutupnya.

Sementara itu peraih medali emas Maulida Alfi Nadiya menyatakan sangat bangga dengan prestasi yang diraihnya. Santriwati yang kini duduk di bangku kelas XII MIPA 4 ini tidak menduga bisa lolos maju ke tingkat nasional. Maulida bersyukur ikhtiar latihan dengan tekun dan teratur membuahkan prestasi membanggakan.

“Tiket ke tingkat nasional ini semua berkat doa dan usaha selama ini. Berupa latihan secara teratur dan selalu mendengar apa yang dikatakan pelatih,” tuturnya.

Putri pasangan Sri Sumarsono dan Sri Suharti bertekad untuk berjuang lebih semangat mengadapi kejuaraan di tingkat nasional mendatang. Hal itu pun didukung kordinator lomba MBS Sleman, ustaz Eko Sugiarto, S. Pd.

“Segala dukungan kami berikan kepada seluruh atlet agar sukses di tiap event lomba. Kami berharap Maulida juga mendapat kesuksesan di tingkat nasional nantinya. Tidak lupa, saya sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh atlet yang telah berjuang dan berusaha dengan sebaik-baiknya di gelanggang pencak silat KOSN Tingkat Provinsi DIY,” ujar ustaz Eko. (ElMoedarries)

 

 

Prestasi membanggakan diraih oleh SMA MBS Prambanan Sleman, melalui Surat Keputusan Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 110/KEP/I.4/A/2021 tentang Penetapan Sekolah/ Madrasah Muhammadiyah Untuk Program Akselerasi SMA/MA Unggul.

SMA MBS Prambanan Sleman ditetapkan sebagai salah satu dari 1000 SMA/MA Muhammadiyah di seluruh Indonesia sebagai pilot project program akselerasi sekolah unggul.

Hal itu diungkapkan Tim Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ustaz Agus Yuliyanto, M. Pd. Program Sekolah Unggul yang dicanangkan Muhammadiyah ini prosesnya melalui beberapa seleksi. Dari sekitar 1000 sekolah SMA/MA Muhammadiyah yang kita jadikan sampel, akhirnya mengerucut menjadi 11 sekolah yang kita pilih. Tentunya, sekolah yang kita jadikan piloting telah memenuhi syarat dan kriteria yang kita tentukan.

Dari beberapa kriteria tersebut diantaranya, prosentase jumlah peserta didik yang diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur UTBK, terangnya.

“Sebagai piloting project sekolah unggul, saya berharap SMA MBS bisa menjadi sekolah percontohan, yang mampu  merealisasikan ciri khas pendidikan Muhammadiyah yang unggul, holistik dan bertata kelola, baik yang didukung oleh pengembangan iptek dan litbang sebagai wujud aktualisasi gerakan dakwah dan tajdid dalam membentuk manusia yang utuh sebagaimana tujuan pendidikan Muhammadiyah”, ungkap ustaz Agus.

Selain SMA MBS, ada sepuluh SMA/MA Muhammadiyah lainnya yang terpilih menjadi piloting project sekolah unggulan, yakni SMA Muhammadiyah Kota barat Solo, SMA TrenSains Muhammadiyah Sragen, Madrasah Muallimat Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Madrasah Mu’allimin  Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, SMA Ahmad Dahlan Metro Lampung, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Gunungkidul, dan SMA Taruna Muhammadiyah Muntilan Magelang.

Kepala SMA MBS, ustaz Roiq, Lc. menyampaikan rasa suka citanya atas terpilihnya SMA MBS Sleman menjadi pilot project sekolah unggulan. “Alhamdulillah kami bersyukur dan berterimakasih karena SMA MBS mendapat kepercayaan menjadi salah satu sekolah pilot project sekolah akselerasi. Dengan terpilihnya SMA MBS merupakan proses bagi kami menuju sekolah yang lebih unggul dan berkualitas,” ujar Kepala SMA MBS.

Menurut ustaz Roiq, sekolah yang dipimpinnya tersebut telah mengalami peningkatan kompetensi kelulusan siswanya, baik dari jumlah siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri maupun di Timur Tengah tiap tahunnya.

Ustaz Roiq berharap, SMA MBS tetap komitmen dalam meningkatkan mutu sekolah untuk dapat mencetak generasi-generasi penerus yang berprestasi. “Semoga diberikan kelancaran dan kemudahan serta bisa menebar manfaat kepada sekolah-sekolah yang lain,” harapnya.(ElMoedarries)

 

 

Berita gembira hadir di tengah masa pandemi. Belum genap satu pekan di Sudan, ijroat atau kepengurusan berkas untuk penerimaan mahasiswa baru juga masih dalam proses, keluarga besar MBS kembali mendapatkan kabar bahagia. Pasalnya,  sebanyak 10 santri MBS dinyatakan lolos seleksi muayyanah di International University of Africa Sudan. Lolosnya semua mahasiswa baru MBS dalam muayyanah di IUA Sudan ini menjadi sebuah prestasi yang membanggakan.

Salah satu mahasiswa baru IUA, Hajir Ahmad merasa terharu dan sangat bersyukur dengan kelulusan 10 santri MBS dalam muayyanah di IUA. “Alhamdulillah, ini kabar bahagia untuk seluruh keluarga besar MBS. Allah memberikan kemudahan dan kelancaran, sehingga perjuangan kami dan rekan-rekan berbuah manis.

Menurut Hajir, muayyanah atau semacam tes pra kuliah ini sebagai penentu apakah mahasiswa akan masuk kelas bahasa terlebih dahulu satu tahun atau langsung masuk kuliah. Apabila muayyanah ini lolos, itu artinya kita bisa langsung masuk kuliah tanpa harus masuk kelas bahasa, tuturnya.

Hajir juga menyebut materi yang diujikan dalam muayyanah meliputi kecakapan berbahasa arab atau muhadatsah, nahwu shorof dan hafalan. Selain materi di atas, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam membaca kitab, ta’ahud tholib menjadi salah satu instrument tes yang diujikan. “Alhamdulillah, kami semua berhasil melewati semua materi ujian tersebut dengan lancar dan dinyatakan lolos,  jelas santri asal Sulawesi Tengah ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Lutfi Retno Wulan, santriwati asal Wonogiri tersebut menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh dewan guru dan asatiz yang telah membimbing dan membina para santri dengan penuh semangat keikhlasan. Baginya, capaian ini bukanlah hal yang mudah, tetapi melalui tahapan dan proses penggemblengan yang panjang di pesantren. “Kami sangat bahagia dan bersyukur atas capaian ini. Atas nama alumni MBS, kami berterima kasih kepada seluruh dewan guru dan asatiz yang telah gigih dan ikhlas membimbing dan membina kami, ujarnya.

Sementara itu, Direktur MBS, ustaz Fajar Shadik berharap semoga prestasi ini akan menjadi motivasi bagi para santri yang lain agar bersungguh-sungguh dalam belajar. Ustaz Fajar juga berdoa semoga para santri yang akan melanjutkan studinya ke timur tengah diberikan kemudahan, kesuksesan dan keberkahan dalam ilmunya. Beliau juga berharap setelah lulus nanti bisa kembali lagi ke pesantren dan berbagi ilmunya dengan santri-santri yang lain.

“Semoga antum semuanya sukses dan bisa mengembangkan ilmunya di pesantren setelah lulus kelak dan kembali ke Indonesia,”harapnya.(ElMoedarries)

SMA MBS berhasil mengantarkan 61 santrinya lulus di berbagai seleksi perguruan tinggi negeri. Kepala SMA MBS, ustaz Roiq, Lc  mengatakan, santrinya lulus masuk perguruan tinggi melalui jalur SBMPTN, SNMPTN, SPAN PTKIN dan UM PTKIN.

“Hasil UTBK SBMPTN 2021 pada 14 Juni 2021, alhamdulillah, 24 santri SMA MBS lulus,” ucapnya. Capaian ini cukup membanggakan, kata ustaz Roiq, karena lulus jalur seleksi UTBK- SBMPTN menjadi harapan para santri kelas 12. Selain itu, ada 36 santri yang diterima kuliah di Timur Tengah, 4  santri masuk melalui jalur SNMPTN, 3 santri  melalui seleksi SPAN PTKIN dan 30 santri lolos UM PTKIN.

“Sekali lagi selamat dan apresiasi bagi anak-anak yang lolos SBMPTN dan PTKIN, semoga diberi kemudahan dalam melangkah menuju jenjang perguruan tinggi. Bagi anak-anak yang masih berjuang mencari perguruan tinggi, semoga diberi kemudahan dan keistiqomahan. Terus berjuang tanpa lelah menggapai cita-cita,” pungkasnya.

Kordinator Tim studi lanjut MBS, ustazah Isa Almutia, S. Pd mengatakan bahwa  keberhasilan ini merupakan hasil kerjasama yang baik dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah atas pencapaian santri MBS tahun ini. Ini adalah hasil semangat belajar para santri dan semangat kerja asatiz serta tim prestasi MBS yang telah mengawal, mendampingi dan mengarahkan kepada seluruh santri ,khususnya kelas 12” kata ustazah Isa.

Menurut catatan tim studi lanjut MBS, santri yang lolos di PTN melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN tersebar di UNAIR, UNBRAW, UNM, UNS, UNNES, UNSOED, UGM, UNY, UNEJ, Udayana, Institut Teknologi Sumatera, UNHAS, Universitas Makassar, UPN dan Unpad Bandung. Santri yang lolos di PTKIN tersebar di UIN Walisongo, IAIN Surakarta, UIN Sunan Kalijaga, IAIN Purwokerto, IAIN Pekalongan, UIN Jakarta, UIN Samarinda, UIN Bandung dan UIN Raden Intan Lampung. (ElMoedarries)

DATA NAMA SANTRI YANG DITERIMA DI PERGURUAN TINGGI NEGERI

NO NAMA PERGURUAN TINGGI JURUSAN
1 Bachtiar Yusuf UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Pend. Bahasa Arab
2 Aulia Isma Windana UIN  Purwokerto Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
3 Arya Aulia Razmi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Aqidah dan Filsafat Islam
4 Munasibi Ahmad Abdillah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Bahasa dan Sastra Arab
5 Haneef Ahsana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hukum Tatanegara
6 Yonansa Rizqika Dwi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hukum Keluarga Islam
7 Rafif Alzuhli Surya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Al-qur’an & Tafsir
8 Fadhil Asyam Ra’if UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta PGMI
9 M. Alfa Reza UIN Raden Mas Said Surakarta Manajemen Dakwah
10 Setia Aji UIN Walisongo Semarang Pendidikan Kimia
11 Lathif Fauzan Nur Akbar UIN Walisongo Semarang Pend. Bahasa Arab
12 M. Rifqi Al’Azis UIN Walisongo Semarang Komunikasi & Penyiaran Islam
13 Yahya Maulana Saputra UIN Antasari Manejemen dakwah
14 Rafif Alzuhli UNY Pend.Biologi
15 Slamet Raharjo UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Psikologi
16 Faiq Hanif Bunayya UNAIR Akuakultur
17 Hudallil Muttaqin UNY Manajemen
18 Hasan Amirul UNY Pend. Bahasa Jawa
19 Prananda Immamudin Dzaki UGM Biologi
20 M. Fathur Rahman UNNES Ilmu Keolahragaan
21 Siraj Fadlullah UPN Veteran Yogyakarta Sistem Informasi
22 Endi Fathoni Wibowo Unpad Televisi dan film
23 Affan Rizwanda Adib UNEJ Ilmu Tanah.
24 Abdullah Azam Dienullah UNPAD  Jurnalistik
25 M. Rozzan Abdillah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Teknik Industri
26 Sya’roni Zulfikar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Teknik Informatika
27 Irfan Sadida UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Akuntansi Syariah
28 Bagas Febrianto IAIN Pekalongan Komunikasi dan penyiaran islam
29 Ma’ruf Nanda Alimasdar UIN Surakarta Sejarah Peradaban Islam
30 Zahru Robickhul Akbar UIN raden intan lampung Sejarah dan peradaban islam
31 Yuli Annisa Shafira UIN  Samarinda Perbankan Syari’ah
32 Lathifa Jasmine UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
33 Rifa’atul Mahmudah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Komunikasi dan Penyiaran Islam
34 Dona Nur Fitriyanti UIN Raden Mas Said Surakarta Pendidikan Agama Islam
35 Qonitah Rihadatul UIN Purwokerto Pendidikan Agama Islam
36 Husnu Diana Al Hanifia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dirasat Islamiyah
37 Khalifa Berliana Maghribah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Pendidikan Bahasa Arab
38 Intan Bintang Wijaya UIN Sunan Gunung Djati Bandung Bahasa dan Sastra Arab
39 Davina Malva Putri Mayadita Subronto UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hukum Tatanegara
40 Salisatul Marfuah UIN Walisongo Semarang Ilmu Seni & Arsitektur Islam
41 Iffah Nur UIN Walisongo Semarang Ekonomi Syariah
42 Fanida Alwina Ramadhani UIN Raden Mas Said Surakarta Pendidikan Islam Anak Usia Dini
43 Hilba Fitria Qolbi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bahasa & Sastra Arab
44 Intan Tanalina Hasna UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Bimbingan & Konseling Islam
45 Ainun Gushaniva UIN Samarinda Pend.Bahasa Inggris
46 Mutia Nahri Ahdia UIN Raden Mas Said Surakarta Komunikasi & Penyiaran Islam
47 Intan Bintang UNNES Pend. Bahasa Arab
48 Ayustina Intan L UNY Statistika
49 Iffat Khoirunnisa UNSOED Teknologi Pangan
50 Intan Aziizah Udayana Ilmu Kesehatan Masyarakat
51 Khaansa Khairunnisa UNAIR Studi Kejepangan
52 Aulia Putri Balqis UNY Pend. Teknik Sipil & Perencanaan
53 Qotrun Nasywa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Pend Kimia
54 Haghiya Universitas Brawijaya Budi Daya Perairan
55 Kinanthy Giga Rizqi Nuari Universitas Negeri Malang Pend. Luar Biasa
56 Wahyuadi Setyaningtyas Dewi Putri Universitas Negeri Malang Pend. Bahasa Arab
57 Hilba Fitria Qolbi UNS Pend. Fisika
58 Rayhand Ocad Pauridianto Institut Teknologi Sumatera Teknik Telekomunikasi
59 Aisyah Rahmawati UNY Biologi
60 Annisya Tarakanita Universitas Hasanuddin Sastra Asia Barat/Arab
61 Anni Muzakiah Amri Universitas Makassar Psikologi

Dua tahun lalu beberapa remaja berkumpul, berserikat, dan menyatukan pemikiran. Menciptakan sebuah gagasan setelah diskusi panjang tentang pendidikan. Lalu masing-masing mereka sibuk ini-itu, mengeksekusi gagasan yang dibuat. Wawancara dengan para narasumber, konsultasi dengan ahli, bahkan sampai menghitung dan menggalang dana untuk menyukseskan gagasan yang digadang : Pembuatan majalah sun31 (baca : Santriwan).

Diinisiasi oleh PR IPM PPM MBS Sleman Yogyakarta angkatan 2018-2019, majalah sun31 lahir edisi pertama. Debut perdananya adalah hari pembagian rapor di mana seluruh wali santri hadir mengambil laporan hasil belajar buah hatinya.

Tidak sampai disitu. Obor gagasan ini berlanjut, berpindah tangan pada pengurus berikutnya. PR IPM PPM MBS Sleman Yogyakarta angkatan 2019-2020 melanjutkan gagasan yang sudah ada. Memperbaiki penampilan dan design yang sebelumnya mereka sendiri kritisi. Diskusi panjang tentang penentuan narasumber, tema majalah dan konten apa saja yang termuat.

Segalanya terasa mudah. Koordinasi sana-sini tidak terhambat, koneksi yang mudah dijangkau, dan dana yang cepat tergalang. Meski memang, dalam proyek apapun halangan selalu ada.

Majalah sun31 dengan M. Hanif Syarifudin sebagai kepala redaksi, tentu dengan bantuan rekan-rekannya. Edisi kedua dengan tema “Di Bawah Lentera Karya Santri.” Resmi rilis pada pembagian rapor berikutnya, Desember 2019.

Di tengah proses pengerjaan majalah edisi ketiga dengan segala kemudahan yang ada, belum selesai wawancara musibah melanda. Wabah pandemi covid-19 menyerang dunia tidak terkecuali Indonesia.

Santri-santri dipulangkan. Koneksi terhenti. Koordinasi macet. Dana tidak tergalang lagi. Pembuatan majalah ini hampir menjumpai mati suri saat hendak melanjutkan edisi ketiga.

Kepala Redaksi tidak berputus asa. Menggunakan sumber daya yang ada, dari teknologi komunikasi yang berkembang pesat selama pandemi ia mengajak teman seserikatnya melanjutkan pembuatan majalah edisi ketiga sun31.

Digawangi oleh Hilmi Anfasa Zain Irsyad dan dibantu rekan rekannya, majalah ketiga sun31 berhasil diluncurkan meski pembuatannya tertatih-tatih. Koordinasi yang sulit tidak menjadi penghalang untuk membagi tugas, keterbatasan alat dan dana yang sering menjadi masalah utama proyek, gagal menyurutkan semangat tim redaksi.

Sesuai yang dituturkan kepala redaksi, bagian tersulit untuk menyusun majalah ini ada pada layout dan editing. Bagaimana membuat penampilan majalah ini menarik, tanpa mengurangi dampak tulisan yang ada.

Majalah sun31 edisi ketiga resmi rilis pada Agustus 2020 untuk versi softfile dengan link di instagram PR IPM PPM MBS Sleman Yogyakarta, dan versi hardfile pada Mei 2021, di tengah wabah pandemi covid-19 yang belum berhenti.

Dengan slogan “Bright the world with knowledges.” “Sinari dunia dengan pengetahuan.” Sama seperti tujuan awal penyusunan majalah ini yang menitik beratkan fokusnya pada pendidikan yang menarik terutama bagi kalangan santri yang berisi anak-anak muda.(slmt)

Keluarga besar pondok pesantren MBS Jogja mengucapkan selamat dan sukses atas torehan Prestasi

Anada Hanessy Sekar Rija dan Ananda Aisyah Rahmawati

Yang telah meraih jura 3 lomba Nasyid Tingkat nasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2021

Semoga ini menjadi inspirasi dan pelecut semangat para santri.

https://mwa.ipb.ac.id/-/slot-gacor/ https://sipil.ft.uns.ac.id/wp-content/plugins/