Pendidikan harus dimulai dari ketertarikan atau memiliki rasa senang terhadap suatu hal yang dipelajari. Ketua Majelis Disdakmen & PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustaz Didik Suhadi, Ph.D menjelaskan bahwa rasa senang itu akan menjadi pembiasaan, kemudian kebutuhan dan budaya yang kemudian melekat dalam karakter seorang santri.

Karakter seorang santri, Ustaz Didik Suhadi menyampaikan dalam seminar rapat kerja MBS Yogyakarta, Rabu (5/6/2023) di antaranya ialah berpikir kritis. Santri, lanjutnya, harus mampu bersaing dan berkolaborasi karena tidak ada satu pun masalah yang bisa diselesaikan dengan satu ilmu, harus dengan berbagai ilmu.

“Kolaborasi akan menciptakan mutual partnership, artinya bersama-sama santri saling menguntungkan,” kata Ustaz Didik yang juga tokoh pendidikan Indonesia

Lebih lanjut, Ustaz Didik menambahkan santri harus berkreativitas dan berinovasi untuk kesuksesannya di masa depan. Begitu pun sekolah, Ustaz Didik berharap dapat berinovasi sehingga menarik orangtua santri memondokkan putra-putrinya ke MBS Yogyakarta. Sebab tak bisa dipungkiri, keberadaan kompetitor yang semakin inovatif mampu merebut kepercayaan wali santri.

Selain itu, beliau menekankan agar inovasi disertai dengan integrasi, yakni dengan menyesuaikan unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat. Hal ini dilakukan dengan pendekatan rutinitas masyarakat Indonesia karena, Indonesia negara yang multi culture dan multi agama.

Hal Iain yang tak kalah penting adalah kemampuan berkomunikasi. Ustaz Didik mengingatkan agar para pendidik memberikan kesempatan untuk santri terlibat dalam proses pembelajaran (interaksi) sehingga, anak mampu menyalurkan idenya dengan baik dan sukses di masa depan.(pipit)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://mwa.ipb.ac.id/-/slot-gacor/ https://sipil.ft.uns.ac.id/wp-content/plugins/