Teacher Next Level: MBS Yogyakarta Dorong Guru Terus Bertumbuh, Berinovasi, dan Menginspirasi

WhatsApp
Telegram
Facebook

PPM MBS Yogyakarta menggelar rangkaian kegiatan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing, mendidik, dan melaksanakan pembelajaran yang berkualitas bagi para santri. Kegiatan tersebut bertajuk Teacher Next Level: Bertumbuh, Menginovasi, Menginspirasi. Adapun rangkaian kegiatannya antara lain: IHT Pengimbasan Umul Quro’, IHT Pengimbasan Praktik Baik Sekolah Model, Workshop Counseling and Growing dengan tema Didengarkan, Dipahami, dan Tumbuh Bersama, serta FGD (Focus Group Discussion) Kebahasaan-Lintas Bidang. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak Sabtu-Rabu, 19-23 September 2026 bertempat di Aula Ki Bagus Hadikusumo.

Rangkaian kegiatan ini melibatkan beberapa peserta diantaranya seluruh pegawai PPM MBS Yogyakarta yang terdiri atas guru mata pelajaran syar’i baik di MBS Pusat, MBS AR Fachrudin, dan MBS Al Badar untuk mengikuti IHT Pengimbasan Umul Quro’. Kemudian guru mata pelajaran umum untuk mengikuti IHT Pengimbasan Praktik Baik Sekolah Model. Workshop Counseling and Growing diikuti oleh wali kelas SMP, SMA, dan Takhasus, serta Tim Bimbingan Konseling, hingga bagian Kema’hadan. FGD (Focus Group Discussion) Kebahasaan-Lintas Bidang melibatkan tim kurikulum, Kesiswaan Putra dan Kesiswaan Putri,  Bagian  kema’hadan, ketua MGMP Bahasa Arab dan Bahasa Inggris PPM MBS Yogyakarta.

Kegiatan IHT Pengimbasan Umul Quro’ ini dilaksanakan dalam rangka pengimbasan pasca daurah yang dilaksanakan di Universitas Ummul Qura. Daurah tersebut diikuti oleh delegasi dari berbagai pondok dan perguruan tinggi Muhammadiyah. PPM MBS Yogyakarta mendelegasikan ustaz Muhammad Abdi Fattah, Lc dan ustazah Euis Nur Fu`adah, S.H.I., M.Pd. yang kemudian bertugas sebagai pemateri dalam kegiatan ini. Pemateri menegaskan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Arab sangat penting untuk memulai dari dasar, dan juga melatih seluruh kecakapan bahasa seperti istima’, qira’ah, kitabah, dan muhadatsah. Kegiatan ini juga sekaligus sebagai forum berbagi ilmu terkait pembelajaran Bahasa Arab dan ilmu syar’i. Ustaz Fattah berharap agar guru Bahasa Arab dan ilmu syar’i dapat memahami bahwa pembelajaran Bahasa Arab itu harus “mutakamil” dengan melibatkan seluruh maharah/ kecakapan dalam berbahasa.

Ustaz Roiq, Lc sebagai kepala SMA MBS Sleman Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan IHT Pengimbasan Praktik Baik Sekolah Model merupakan bentuk upgrading kompetensi guru. Beliau juga menjelaskan bahwa posisi SMA MBS Sleman Yogyakarta sebagai sekolah model PM (Pembelajaran Mendalam) dan KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) berada pada kategori maju. Kategori tersebut menandakan bahwa sekolah telah memenuhi seluruh standar mutu dengan baik dan secara mandiri mampu melakukan inovasi serta evaluasi keberlanjutan.

Pemateri dalam kegiatan IHT Pengimbasan Praktik Baik Sekolah Model adalah ustazah Rahayu Saraswati, M.EK dan ustaz Muhammad Amirul Mukminin, S.Pd. Ustazah Rahayu Saraswati, M.EK selaku pemateri pertama menyampaikan bahwa mindset atau pola pikir memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang bertindak, bertingkah laku, dan mengambil keputusan. Pendidikan membangun pola pikir untuk terus berkembang melalui growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, proses belajar, pengalaman, dan keberanian menghadapi tantangan. Kesalahan dan kegagalan dipandang sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Pola pikir bertumbuh berkaitan dengan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menekankan pembelajaran secara mindful, meaningful, dan joyful. Peserta didik didorong untuk menyadari proses belajar, memahami makna pembelajaran, menikmati proses, menghargai usaha, berani mencoba, melakukan refleksi, dan terus mengembangkan potensinya.

Ustaz Muhammad Amirul Mukminin, S.Pd. sebagai pemateri kedua memberikan penguatan pembelajaran mendalam melaui Teacher Experimental Training (TET), Inkuiri Kolaboratif, dan berbagi praktik baik. TET merupakan kebiasaan guru untuk mencoba melakukan perbaikan pembelajaran secara terencana. Sedangkan Inkuiri kolaboratif adalah proses ketika guru bekerja sama untuk mengidentifikasi masalah atau kebutuhan dalam pembelajaran, mencari solusi, kemudian mengevaluasi hasilnya. Berbagi praktik baik dalam hal ini ustaz Amirul membagikan pengalamannya dalam kegiatan pembelajaran melalui metode Two Stay Two Stray (TSTS). Seluruh peserta diminta untuk berperan sebagai peserta didik dan kemudian menerapkan pembelajaran dengan metode Two Stay Two Stray.

 

Workshop Counseling and Growing dengan tema Didengarkan, Dipahami, dan Tumbuh Bersama menghadirkan Prof. Dr. Dody Hartanto S.Pd., M.Pd. sebagai pemateri. Dalam sesi tersebut beliau menjelaskan bahwa komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masih banyak orang yang menganggap bahwa kebiasaan memberikan nasihat sudah cukup dalam membangun komunikasi yang baik. Padahal, komunikasi yang efektif membutuhkan kemampuan untuk memahami dan menempatkan diri pada kondisi orang lain.

Beliau juga menekankan bahwa kegagalan dalam berkomunikasi kerap terjadi ketika seseorang lebih mengedepankan ego daripada empati. Oleh karena itu, melalui program ini para guru diharapkan mampu lebih memahami diri sendiri, membangun kesadaran dan empati dalam berkomunikasi, serta mempersiapkan diri untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri sebelum membantu peserta didik menemukan dan merasakan kebahagiaan dalam proses belajar.

Kegiatan terakhir berupa FGD (Focus Group Discussion) Kebahasaan-Lintas Bidang dipandu oleh ustaz Rahmat Susanto, M.Pd. dan ustaz Chabib Ludfiansyah, S.Sos. Kegiatan ini mempertemukan tim MGMP Bahasa Arab dan MGMP Bahasa Inggris untuk berdiskusi mengenai penerapan konsep bilingual di lingkungan PPM MBS Yogyakarta. Melalui diskusi tersebut, para peserta membahas strategi penguatan penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas di lingkungan PPM MBS Yogyakarta. Ke depan, penggunaan kedua bahasa tersebut akan diintensifkan di berbagai lini sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan yang mendukung pembiasaan berbahasa asing.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan semangat kolaborasi dan pengembangan diri para guru agar membawa praktik-praktik baik yang diperoleh selama kegiatan ke dalam proses pembelajaran dan kehidupan di lingkungan pesantren. (TSL)