Potret Kehidupan Ramadhan di Pesantren: Menyuburkan Keimanan, Menghadirkan Kedamaian

WhatsApp
Telegram
Facebook

Yogyakarta- Bulan Ramadhan selalu membawa nuansa yang berbeda di mana pun ia hadir, namun di lingkungan pesantren, kemuliaannya terasa berlipat-lipat. Begitu pula yang dirasakan di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (PPM MBS) Yogyakarta, tempat para santri menjalani hari-harinya dengan kedisiplinan, belajar ilmu syar’i, serta hidup dalam kebersamaan yang khas. Ramadhan tidak hanya menambah aktivitas, tetapi menghidupkan suasana baru yang membuat para santri merasakan pengalaman ruhani yang jauh lebih mendalam dibandingkan hari-hari biasa.

Hari Hari Penuh Makna Di Bulan Mulia

Di luar bulan puasa, aktivitas para santri sudah teratur dan padat. Mereka mengikuti jadwal belajar, kegiatan organisasi, hingga pembinaan karakter. Namun saat Ramadhan datang, pesantren seakan berubah wajah. Hawa kesungguhan beribadah menyelimuti setiap sudut masjid, asrama, hingga halaman pesantren. Para santri menyambutnya dengan antusias, merapikan lingkungan, membersihkan masjid, dan menata pendopo atau musholla yang akan menjadi pusat kegiatan ibadah.

   

Salah satu ciri yang terlihat jelas adalah meningkatnya kuantitas ibadah yang dilakukan bersama. Ifthar, sahur bersama, tarawih berjamaah, hingga i’tikaf menjadi bagian tak terpisahkan. Ramadhan di Pesantren mengajarkan setiap momen kebersamaan akan menanamkan rasa persatuan. Beberapa santri pernah menyampaikan bahwa mereka merindukan suasana ngabuburit di luar pesantren atau berbuka bersama keluarga. Namun, rasa kehilangan itu segera terobati dengan kedekatan bersama teman-teman dan hangatnya suasana Ramadhan di pondok. Kebersamaan ini juga menjadi salah satu hal yang menguatkan mental dan kedewasaan spiritual mereka.

     

Semarak Ramadhan: Program yang Menghidupkan Pesantren

Selain itu Ramadhan di pesantren semakin berwarna dengan adanya program “Semarak Ramadhan” yang digelar oleh PR IPM MBS Putra Yogyakarta yang bekerjasama dengan Divisi Tahfidz dan Ibadah Kema’hadan Putra PPM MBS Yogyakarta. Nantinya program ini akan berbentuk; I’tikaf, tilawah, kajian sebelum berbuka, kultum tarawih yang diisi oleh para asatidz, hingga pembinaan ibadah menjadi agenda utama. Sementara itu di kompleks putri juga tak kalah menarik, PR IPM MBS Putri Yogyakarta pun mengadakan program “Festival Cahaya” menjadi ikon tahunan yang ditunggu. Ada lomba parade sahur, menghias asrama, kaligrafi, hingga Qur’an time yang semakin menumbuhkan kreativitas sekaligus kedekatan antar anggota asrama. Kegiatan seperti ini adalah wujud nyata bahwa Ramadhan bisa tetap meriah tanpa kehilangan esensi ibadahnya.

 

Gerakan Sosial: Ramadhan sebagai Momentum Berbagi

Salah satu kegiatan yang menjadi kebanggaan adalah pembagian takjil kepada masyarakat, hasil kolaborasi santri bersama Kantor Layanan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (Lazismu) PPM MBS Yogyakarta. Ratusan paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan, dengan tujuan menanamkan kepedulian sosial sekaligus rasa syukur karena dapat merasakan berkah Ramadhan. Para santri menyaksikan langsung antusiasme masyarakat yang menerima takjil dengan tulus. Banyak yang menyampaikan terima kasih, bahkan mendoakan para santri. Tentu momen ini memberikan peljaran bagi kita bahwa Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi tentang berbagi dan merangkul sesama. Selain kegiatan internal di pesantren, Selama Ramadhan di pondok, santri juga akan mengikuti program Dakwah Santri, yang merupakan kegiatan unggulan PPM MBS Yogyakarta yang memberdayakan santri kelas XI sebagai penggerak keagamaan di masyarakat. Setelah melalui seleksi dan pembekalan, para santri diterjunkan untuk membantu berbagai kegiatan ibadah di masyarakat, mulai dari ceramah, menjadi imam tarawih, hingga membina TPA dan rutinitas keagamaan lainnya.

Akhirnya, Ramadhan di PPM MBS Yogyakarta menjadi momen yang menjadikan para santri untuk tumbuh dalam ibadah, kedewasaan, dan kebersamaan. Meski tidak selama satu bulan utuh, karena santri akan mendapat libur hari raya idul fitri, pengalaman yang mereka lalui mulai dari disiplin dalam hal ibadah hingga kepedulian sosial, tentunya akan meninggalkan jejak yang menetap. Ramadhan boleh berakhir, tetapi semangat dan pelajaran yang hadir bersamanya terus hidup dalam langkah para santri ke depan. (Renaldhi Sheva)