Prambanan – Pondok Pesantren Modern (PPM) Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta sukses menyelenggarakan prosesi wisuda bagi santri Angkatan XIII pada Ahad, 10 Mei 2026 di Sportorium UMY. Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul Ustaz Arif Jamali Muis, M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut Ustaz Arif menyampaikan tausiah bagi para lulusan yang akan melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beliau mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada para wali santri yang telah memberikan kepercayaan penuh kepada PPM MBS Yogyakarta dalam membina putra-putri mereka selama tiga hingga enam tahun.
Transisi Menuju Kedewasaan dan Kemandirian
Dalam tausiahnya, Ustaz Arif menekankan bahwa kelulusan ini bukanlah titik akhir, melainkan gerbang awal menuju dunia yang jauh lebih luas. Ia mengingatkan para santri bahwa masa-masa di pesantren adalah masa bimbingan intensif dari para ustaz dan ustazah.
“Jika kemarin ustaz, ustazah, dan pengasuh menuntun satu per satu saat kalian mengalami kesulitan, kini kalian telah dianggap sebagai individu dewasa yang mampu menentukan langkah dan masa depan sendiri,” ujarnya di hadapan ratusan wisudawan. Meski demikian, beliau meyakinkan para alumni agar tetap percaya diri karena bekal yang diberikan selama di MBS sudah lebih dari cukup untuk menghadapi tantangan zaman.

Mengutip teori The Third Wave karya Alvin Toffler, Ustaz Arif membedah evolusi peradaban manusia dari gelombang pertanian yang mengandalkan fisik, hingga gelombang industri yang berbasis mesin. Saat ini, dunia berada pada puncaknya di gelombang informasi yang didominasi oleh teknologi dan kecepatan.
Beliau juga menyoroti fenomena “Agama Data” atau algoritma sebagaimana digambarkan oleh Yuval Noah Harari. Di era ini, manusia tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi “disodorkan” informasi oleh kecerdasan buatan (AI).
“Dulu, orang pintar adalah mereka yang membawa buku tebal. Kemudian berganti menjadi mereka yang mahir mencari di Google. Kini, kita berada di era AI, di mana kemampuan manusia tidak lagi ditentukan oleh apa yang ia baca, melainkan seberapa dalam ia mampu bertanya dan berinteraksi dengan teknologi,” jelasnya.
Nilai Kemanusiaan: Benteng Terakhir yang Tak Tergantikan AI
Meski hubungan antarmanusia sudah diganti dan dibantu oleh AI, Sekretaris PWM DIY ini menegaskan bahwa ada satu elemen yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin, yaitu nilai-nilai kemanusiaan.
“Empati, kasih sayang, cinta yang tulus, dan pengabdian adalah nilai yang tidak bisa digantikan oleh AI. MBS sudah membuktikan dengan menanamkan karakter tersebut kepada anak-anak kita,” tegasnya.
Sebagai penutup, beliau mendorong para lulusan untuk memiliki Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh. Dalam konteks Muhammadiyah, hal ini selaras dengan ideologi Islam Berkemajuan. Sebuah paradigma yang tidak anti terhadap kemajuan zaman, namun memiliki kekuatan moral dan tauhid yang kokoh untuk mengendalikan teknologi tersebut agar tetap maslahat.
Pesan terakhir beliau kepada para santri sangat jelas: jangan pernah lelah belajar. “Zaman akan terus berubah, namun kemauan untuk terus bertumbuh dengan pondasi agama dan nilai kemanusiaan adalah modal utama kalian untuk menjadi pemimpin, ilmuwan, dan mubaligh di masa depan,” pungkasnya.