MBS Yogyakarta Launching Gerakan 6S untuk Perkuat Budaya Ramah dan Berkarakter

WhatsApp
Telegram
Facebook

Yogyakarta– PPM MBS Yogyakarta secara resmi melaunching Gerakan 6S (Senyum, Salam, Salim, Sapa, Sopan, dan Santun) pada Sabtu (14/2/2026). Launching gerakan 6S dilaksanakan di beberapa titik lokasi yaitu halaman kelas MBS putra dengan pembina apel ustaz Rahmat Susanto, S.Pd, kemudian halaman kelas MBS putri, ustaz Fakih Udin, Lc., halaman kelas MBS ARF putra, ustaz Muhammad Fauzan Yaksya, S.Hum dan halaman kelas MBS ARF putri, ustaz M. Abdi Fattah, Lc. Kegiatan ini melibatkan para santri, asatidz asatidzah dan karyawan. Program ini diinisiasi sebagai upaya membangun budaya ramah, sopan, berkarakter, dan saling menghormati di lingkungan pondok pesantren. Ustaz Suko Nugroho, S.Pd sebagai Kasi Pembinaan Karakter menyampaikan bahwa gerakan ini bertujuan menciptakan suasana yang harmonis, nyaman, dan kondusif bagi seluruh warga pesantren. “Tujuan dari kegiatan ini adalah membangun budaya ramah, sopan, berkarakter dan saling menghormati serta mewujudkan lingkungan kelas atau pondok pesantren yang harmonis, nyaman dan kondusif,” ujarnya.

       

Ustaz Suko juga menjelaskan bahwa secara umum nilai-nilai 6S sebenarnya sudah banyak diterapkan oleh santri maupun ustaz dan ustazah. Namun, masih terdapat sebagian santri maupun ustaz dan ustazah yang belum mengamalkannya. Oleh karena itu, diperlukan satu pemahaman dan satu pandangan yang sama dalam menerapkan gerakan 6S di lingkungan MBS. Hal tersebut juga senada dengan materi apel yang disampaikan oleh ustaz Fakih udin, Lc bahwa budaya 6S ini perlu untuk digaungkan kembali. Selain itu, 6S menjadi bagian dari implementasi motto MBS yaitu membina iman, akhlak dan ilmu. “Sebenarnya ini bukan suatu hal yang baru, gerakan 6S ini bagian dari mengamalkan motto MBS dan ajaran agama kita” ucapnya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyematan pin oleh pembina apel kepada Duta 6S yaitu Ketua, sekretaris dan Bendahara IPM. Kemudian untuk ustaz ustazah, penyematan pin diwakilkan oleh Kepala Bagian Kemahadan dan Wakil Kepala Kesiswaan.

     

Menurut Ustaz Suko, 6S merupakan dasar dari setiap interaksi. Sikap tersebut setidaknya harus dimiliki oleh santri maupun para asatidz dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini juga selaras dengan kebudayaan Nusantara yang dikenal dengan keramahan dan kesantunannya. Ia berharap gerakan ini tidak berhenti sebatas kampanye atau seremonial semata. Lebih dari itu, 6S diharapkan benar-benar diwujudkan dalam praktik keseharian, baik di dalam kelas, asrama, maupun dalam berbagai aktivitas pesantren. “Harapannya kegiatan ini tidak berhenti dalam batasan kampanye gerakan saja. Semoga bisa diwujudkan dalam penerapan sehari-hari sehingga dapat mempererat persaudaraan, meningkatkan empati, dan menciptakan interaksi positif antar warga pesantren MBS,” pungkasnya. Dengan dilaunchingnya Gerakan 6S, MBS menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter, adab, dan akhlak. (TSL)