MBS Yogyakarta Gelar Kajian Bertema Keluarga Sakinah Sebagai Penguat Perjuangan

WhatsApp
Telegram
Facebook

Pada Ahad pagi yang cerah di penghujung bulan Mei, para guru dan karyawan MBS Yogyakarta tampak berbondong-bondong menuju Masjid AR Fachruddin untuk mengikuti kajian keluarga. Kajian ini bertema “Bersama Mewujudkan Keluarga Sakinah yang Penuh Cinta & Keberkahan sebagai Penguat & Pendukung Perjuangan”. Kajian ini diselenggarakan dalam rangka memperkuat pemahaman tentang pentingnya membangun keluarga sakinah yang penuh cinta dan keberkahan sebagai penopang perjuangan dalam dunia pendidikan dan dakwah.

“Bekerja untuk beribadah, harus memperhatikan keluarga. Jangan terlalu asik bekerja dan mencari rizki, kemudian keluarga ternyata kurang diperhatikan. Bersama-sama belajar dan mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah di tengah-tengah kita bekerja.” ucap ustaz Muhammad Fauzan Yakhsya yang disampaikan ketika memberi sambutan.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh elemen pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan MBS Yogyakarta, meliputi Guru dan Karyawan Fulltime, Pembina Fulltime, Pembina Non-Fulltime, GTT, Guru Ekstrakurikuler, hingga HBC. Hadir sebagai pemateri dalam kajian tersebut yaitu ustadz Ananto Wibowo dan Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. Dalam penyampaiannya, ustaz Ananto menekankan pentingnya membangun keluarga yang harmonis dan penuh cinta dengan memahami peran dan tanggung jawab masing-masing sebagai suami dan istri. Beliau menjelaskan bahwa dalam kehidupan rumah tangga terdapat empat pilar utama yang idealnya dimiliki seorang suami sebagai imam keluarga. Pilar pertama adalah imam material, yakni suami memiliki tanggung jawab utama dalam mencari nafkah bagi istri dan anak-anaknya.

Pilar kedua adalah imam intelektual. Idealnya, suami memiliki kapasitas ilmu atau pendidikan yang lebih tinggi. Pilar ketiga adalah imam mental, seorang suami diharapkan mampu menjadi pengayom serta memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga. Adapun pilar keempat sekaligus yang paling utama adalah imam spiritual. Dalam hal ini, suami diharapkan mampu memimpin keluarga dalam ibadah, akhlak, ilmu, dan pemahaman agama. Menurut beliau, kepemimpinan spiritual merupakan fondasi terpenting dalam membangun keluarga sakinah yang penuh keberkahan.

   

Selain menjelaskan peran suami, beliau juga menyampaikan empat pilar utama yang perlu dijaga oleh seorang istri. Diantaranya menjaga salat lima waktu, menjaga puasa Ramadan, menjaga kehormatan diri, serta menjaga ketaatan kepada suami dalam kebaikan. Dengan saling memahami dan menjalankan peran masing-masing, keluarga diharapkan mampu menjadi tempat yang penuh cinta, ketenangan, dan keberkahan.

Kemudian Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. menyampaikan bahwa proses menjadi pribadi yang baik membutuhkan waktu, kesabaran, dan perjuangan yang panjang. Beliau mengingatkan bahwa ketika seseorang mengajak orang lain kepada kebaikan namun belum mendapatkan respons yang diharapkan, maka hal tersebut tidak perlu disesali.

Menurut beliau, tugas manusia adalah terus menanamkan dan menyebarkan kebaikan dengan penuh keikhlasan, sedangkan balasan terbaik akan diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, para guru dan pembina diharapkan tidak pernah lelah dalam mendidik dan membimbing para santri. Beliau juga berpesan agar para pendidik mampu membentuk santri-santri yang tangguh, tahan uji, serta memiliki karakter mulia.

Kajian ini juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh peserta bahwa keberhasilan dalam mendidik generasi tidak hanya ditentukan oleh kompetensi di lingkungan sekolah, tetapi juga oleh ketenangan dan keharmonisan keluarga di rumah. Dengan keluarga yang kuat, para guru dan karyawan diharapkan mampu menjalankan tugas dengan lebih optimal, penuh keikhlasan, serta semangat pengabdian. (TSL)