Sleman (MBS Yogyakarta) – MBS Yogyakarta menyambut kedatangan rombongan delegasi dalam rangka dialog Lintas Agama dan Lintas Budaya RI – Uni Eropa (DLALB RI – UE) pada Sabtu (29/11). Kunjungan tersebut merupakan Indonesia – EU Interfaith and Intercultural Dialogue yang sebagaimana diketahui pertama kali berlangsung pada tahun 2012, guna mempelajari tentang keagamaan dan harmonisasi antarlintas agama dan lintas budaya di Indonesia. Bertempat di Aula Ki Bagus Hadikusumo, ustaz Fakih Udin, Lc. (Pimpinan MBS Yogyakarta), ustazah Rinna Fitriyah, S.Pd. (Bendahara Umum MBS Yogyakarta), ustaz-ustazah, dan perwakilan santriwan-santriwati menyambut dengan hangat perwakilan delegasi DLALB RI – UE yang terdiri dari delegasi Indonesia, Italia, Jerman, dan Perancis.


Dalam sambutannya, ustazah Rinna mengucapkan terima kasih telah menjadikan MBS Yogyakarta sebagai tujuan DLALB RI – UE. Seperti yang diketahui, MBS Yogyakarta merupakan salah satu sekolah Muhammadiyah terbesar dan nomor satu di Indonesia. Beliau juga memperkenalkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang fokus pada pendidikan dan sosial. “MBS Yogya adalah sekolah Islam berasrama (baca: pesantren) yang seimbang antara pengetahuan dan keagamaannya,” terangnya saat memperkenalkan MBS Yogyakarta di hadapan para delegasi.
Kehadiran delegasi DLALB RI – UE di pondok pesantren MBS Yogyakarta turut diliput oleh beberapa media massa. Bapak Ghofar Ismail (Diplomasi Kementerian Luar Negeri) menyampaikan bahwa tahun ini delegasi Indonesia dan Uni eropa kembali aktif. “Tujuan dari dialog ini untuk menjalin hubungan delegasi antara Indonesia dengan Eropa. Di Indonesia memiliki banyak provinsi dan di balik itu semua kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika.”
Bapak Ghofar juga menjelaskan bahwa di Eropa terdapat 27 negara yang setiap negara memiliki keragaman populasi. “Inilah yang menjadi keunikan dari Eropa sehingga hari ini kita duduk di sini untuk bersama-sama berbagi pengalaman dan saya berharap santri dapat mengambil peran untuk berkolaborasi ke depannya.”

Secara khusus, bapak Ghofar memperkenalkan MBS Yogyakarta di hadapan para delegasi. “MBS Yogya memiliki lebih dari 2.500 santri. Mereka semua tinggal dan belajar bersama di sini. Menghabiskan hari-hari dan malam-malamnya untuk belajar. Tidak hanya belajar di dalam kelas, tapi juga di asrama. Di MBS Yogya, mereka belajar tentang kedisiplinan.”
Bapak Ghofar juga menceritakan kepada para delegasi bahwa banyak alumni dari MBS Yogya yang melanjutkan studi di Eropa dan Arab Saudi, seperti Universitas Islam Madinah di Madinah dan Al-Azhar Kairo di Mesir. Beliau pun turut memuji kemampuan berbahasa santri MBS Yogyakarta yang baik di hadapan perwakilan santriwan dan santriwati yang turut hadir saat itu.
“Bahasa Arab mereka sangat baik, tidak perlu diragukan lagi. Sebab itu menjadi standar untuk dapat masuk ke dua universitas tersebut,” ceritanya dan para delegasi menyimak dengan antusias pemaparan beliau. Beliau berharap agar dapat terhubung dengan negara-negara di Eropa dengan baik. “Mereka juga belajar bahasa asing dengan baik. Bahasa Inggris, tentu saja mereka kuasai. Itu akan membawa mereka studi ke berbagai belahan dunia seperti Eropa, Amerika, Australia, dan masih banyak lagi. Peluang itu sangat terbuka lebar,” pungkasnya.
Tak sekadar dialog interaktif, penampilan geguritan dari santriwan MBS Yogyakarta turut menjadi bagian dalam memperkenalkan budaya yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Secara singkat, bapak Ghofar Ismail menjelaskan kepada para delegasi tentang geguritan yang merupakan puisi Jawa. Tentu saja, mereka begitu terpukau dan tersentuh dengan pembawaan santriwan yang menjiwai saat membacakannya dengan sangat baik.

Sebagai Deputy Head of Mission Delegasi Uni Eropa Indonesia dan Brunei Darussalam, Mr. Stephane Francois Mechati menyampaikan bahwa kedatangan mereka untuk mengenal kebudayaan, perbedaan agama, dan perbedaan metode pembelajaran. Mr. Stephane sendiri sangat tertarik dengan kegiatan santri di pesantren, “Saya tahu ini sempurna. Kalian sangat baik dalam mengatur waktu, begitu terstruktur, dan sangat disiplin.”
Mr. Stephane mengajak santri untuk bebas dalam berpendapat, berpikir kritis, dan kemampuan untuk pembangan diri. “Ada yang menarik di Indonesia dengan begitu banyak populasi, kami ingin belajar hubungan itu dengan Indonesia.” Dan yang paling ditunggu-tunggu oleh beliau ada sesi dialog antara santri dengan para delegasi.
Dalam sesi tanya – jawab sebagai penutup dari kegiatan DLALB RI – EU adalah membahas tentang menyatukan budaya di Eropa. Perwakilan dari delegasi pun menyampaikan bahwa mereka memiliki program student exchange seperti di Perancis, London, maupun luar negara di Eropa. “Kami belajar di kota-kota yang berbeda untuk mengenal satu sama lain. Kami berbicara dalam bahasa Inggris sehingga dapat berkomunikasi dengan mudah, baik itu dalam hal kuliah maupun pekerjaan. Kami berkumpul beda negara untuk saling berbagi,” ungkap perwakilan delegasi dari Jerman di hadapan para santri. Setelah sesi foto bersama, secara khusus, Mr. Stephane mendatangi santri untuk melakukan dialog singkat sebelum pamit.


Kegiatan lintas agama ini sendiri merupakan rangkaian dari Indonesia – EU Interfaith and Intercultural Dialogue yang berlangsung pada tanggal 27 November hingga 1 Desember 2025 di Jakarta dan Yogyakarta, salah satunya untuk mempertemukan akademisi, tokoh agama, hingga pegiat masyarakat sipil. Guna menguatkan komitmen toleransi dan kerja sama sosial dan budaya sebagai tindak lanjut menghidupkan kembali kegiatan tersebut seperti yang diputuskan dalam Indonesia – EU Human Rights Dialogue 2024. (YS)