Sleman (MBS Yogyakarta)– Amaliyah Tadris merupakan salah satu rangkaian ujian wajib di PPM MBS Yogyakarta sekaligus menjadi syarat kelulusan bagi santri kelas 12. Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan santri agar mampu memahami sekaligus mempraktikan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, Amaliyah Tadris juga berfungsi untuk mengasah potensi santri agar kelak menjadi guru yang profesional. Ustazah Euis Nur Fu’adah sebagai koordinator tim Amaliyah Tadris menjelaskan bahwa demi kelancaran kegiatan, persiapan telah dilakukan sejak tiga bulan sebelumnya. Persiapan diawali dengan pengarahan kepada guru pembimbing dan santri, dilanjutkan dengan pembagian kelompok santri beserta guru pembimbing masing-masing, serta pembagian materi yang akan dipraktikan. Selanjutnya, santri juga diarahkan untuk membuat I’dad Tadris yaitu semacam penulisan persiapan mengajar. Proses kegiatan belajar mengajar, mulai dari pembukaan hingga penutup, wajib dituliskan dalam I’dad Tadris sesuai dengan sistematika penulisan yang telah ditetapkan oleh panitia. Dengan demikian, I’dad Tadris dapat memudahkan para santri dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan.


Kegiatan ini terbagi menjadi dua sesi, yakni Amaliyah Tadris perdana dan Amaliyah Tadris reguler. Amaliyah Tadris perdana telah dilaksanakan pada hari Sabtu-Ahad, 10-11 Januari 2026 di Masjid At-Tanwir. Kemudian dilanjutkan Amaliyah Tadris reguler pada 12-15 Januari 2026 bertempat di ruang kelas sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Amaliyah Tadris perdana merupakan santri terbaik yang telah terpilih sebelumnya, diantaranya Alzena Syifa Nurrohim (12 SAINS 7), Mar-a Taqiya Al-Munjiza (12 SAINS 6), Akmal Habiburrohman (12 SOSIAL 1), dan Hafiz Al Bahij (12 SAINS 3). Alzena menceritakan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan ini merupakan pengalaman yang sangat berarti. Selama proses persiapan, ia lakukan semaksimal mungkin demi hasil yang memuaskan, “Selama pembuatan lesson plan ini saya harus aktif bertanya dan berdiskusi dengan supervisor saya yakni ustazah Hikmatul Azizah. Diskusi untuk menentukan materi, metode pembelajaran, bahkan sedetail baju yang dikenakan nantinya. Alhamdulillah semua berjalan lancar atas dukungan dari ustazah dan teman-teman semua.” ucapnya.

Keempat santri tersebut diminta untuk menampilkan performa terbaik di hadapan jajaran pimpinan, bagian kurikulum, seluruh guru pembimbing, dan rekan-rekan satu angkatan. Hasil penilaian dan evaluasi dari para ustaz dan ustazah terhadap keempat santri tersebut akan dijadikan acuan bagi santri lainnya dalam pelaksanaan ujian Amaliyah Tadris reguler. Satu kelompok Amaliyah Tadris reluger terdiri atas 10 hingga 12 santri yang dibimbing oleh dua guru pembimbing. Ustazah Euis Nur Fu’adah juga menambahkan bahwa terdapat beberapa aspek yang menjadi bahan penilaian dalam kegiatan ini, diantaranya metode mengajar, pemahaman materi yang disampaikan, ketepatan pelafalan, serta performa dan pengelolaan kelas.

Sebagai penutup, ustazah Euis juga menjelaskan bahwa dalam mempersiapkan kegiatan ini bukanlah hal yang mudah, karena melibatkan banyak pihak, seperti guru, santri dan berbagai aspek administrasi. Namun, berkat kerja sama tim yang solid dan pemahaman yang baik terhadap kondisi di lapangan, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. (TSL)