Program International Arabic Camp 2026 Awali dengan Ibadah Umroh

WhatsApp
Telegram
Facebook

Makkah – Sebanyak 49 santri SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta resmi bertolak menuju Tanah Suci dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Keberangkatan ini menandai dimulainya program International Arabic Camp (IAC) 2026, sebuah ikhtiar intensif untuk meningkatkan kecakapan bahasa Arab sekaligus menimba ilmu langsung dari para masyayikh/ah di Makkah.

Perjalanan panjang ini dimulai dari kompleks pondok pesantren MBS Yogyakarta menggunakan satu armada bus menuju ke Surabaya pada Jumat (18/09) sore hari. Tepat pukul 05.05 WIB, rombongan santri terbang menggunakan maskapai AirAsia. Kemudian pada hari Sabtu (19/09), peserta IAC transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Kemudian sore harinya melanjutkan penerbangan menuju ke King Abdul Aziz International Airport, Jeddah, Arab Saudi. Setibanya di Jeddah, rombongan peserta IAC dijemput dengan bis untuk menuju ke Al Ayyam Elite Hotel.

Program Dauroh International yang kini berganti nama menjadi International Arabic Camp ini dinilai sangat strategis bagi perkembangan akademik dan spiritual santri. Dengan berada langsung di lingkungan asli masyarakat Arab akan memberikan pengalaman berharga dan memicu motivasi belajar yang tinggi bagi ke-49 santri tersebut. Meskipun masyarakat lokal sering menggunakan bahasa Arab Ammiyah (percakapan sehari-hari), para santri tetap dapat mempraktikkan bahasa Arab Fusha (baku/resmi) yang biasa diterapkan di berbagai fasilitas publik dan instansi resmi.

Peserta IAC Melaksanakan Ibadah Umroh

Menariknya, agenda IAC tidak hanya berfokus pada studi bahasa, melainkan juga dipadukan dengan ibadah umroh. Untuk menyukseskan program ini, MBS Yogyakarta bekerja sama dengan biro Al Amin Tour (Lantabur Amanah Wisata). Selama berada di tanah suci, aktivitas ibadah para santri dipandu langsung oleh Ir. Aruji Sulaksono, M.Arch., muthowif yang saat ini tengah menempuh studi S3 di King Saud University.

Teknis pelaksanaan umroh pun telah dipersiapkan dengan matang sejak berada di atas pesawat. Sekitar 2,5 jam sebelum memasuki wilayah miqat, santri putra mulai mengenakan kain ihram. Pengumuman niat ihram kemudian ditayangkan melalui layar pesawat sekitar 30 menit sebelum pesawat melintasi titik miqat.

Setibanya di Makkah, pelaksanaan ibadah umroh (20/09) di Masjidil Haram, Makkah, dimulai pada pukul 08.30 pagi. Rombongan bertolak dari hotel menggunakan bis menuju Terminal Al Ajyad, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Masjidil Haram melalui Pintu 1 (King Saud Gate). Guna menjaga ketertiban, rombongan santri putra berjalan di barisan depan, kemudian diikuti oleh rombongan santri putri di belakangnya. Seluruh rangkaian rukun umroh, mulai dari thawaf hingga tahallul, dipandu langsung oleh ustaz Aruji.

Ustadz Fakih Udin, Lc. (Pimpinan MBS Yogyakarta), sebagai pendamping putra IAC 2026, terus memberikan wejangan mendalam sepanjang prosesi ibadah. Beliau menekankan agar para santri membuka catatan panduan, menjalankan setiap rukun dengan khidmat, serta tidak lupa menjaga kondisi fisik dengan rutin minum air zamzam agar tidak kelelahan. Strategi pendampingan ini terbukti ampuh menjaga keheningan dan kekhusyukan para santri di tengah padatnya jamaah dari berbagai belahan dunia.

Berdasarkan kesepakatan program International Arabic Camp (IAC) 2026, ke-49 santri ini dijadwalkan hanya melaksanakan satu kali umroh utama secara kolektif. Pihak pendamping menjelaskan bahwa jika ada kesempatan untuk kembali ke miqat di hari-hari berikutnya, aktivitas tersebut akan difokuskan untuk badal umroh bagi keluarga atau dialokasikan sebagai jadwal pengganti khusus bagi santriwati yang sempat berhalangan pada umroh pertama ini.

Gema takbiran dan isak tangis haru sempat pecah dari beberapa santri, terutama mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di depan Ka’bah. Pengalaman spiritual yang luar biasa ini diharapkan menjadi bahan bakar motivasi bagi para santri untuk menjalani program karantina bahasa Arab intensif selama satu bulan penuh ke depan di Tanah Suci.

Program komprehensif ini membutuhkan biaya total sebesar Rp39 juta. Dengan biaya tersebut, para santri telah mendapatkan fasilitas lengkap, mulai dari bimbingan umroh yang intensif, akomodasi hotel, konsumsi makan tiga kali sehari, hingga transportasi bis lokal selama kegiatan IAC 2026. Melalui program ini, ke-49 santri diharapkan pulang membawa predikat umroh yang mabrur sekaligus peningkatan kapasitas kebahasaan yang mumpuni. (YS)

Kontributor Berita dan Foto: Ustazah Zulfa Khuriyatul Farah, M.Hum. (Pendamping Putri IAC 2026)