Mengenal Lebih Dekat K. H. Hisyam

“ Pendidikan adalah usahan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Kalau Pendidikan maju, maka umat Islam juga akan maju “

 

 

 

Kyai Haji Hisyam adalah ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ketiga. Beliau dipilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah selama periode 1934-1937. Ia adalah salah satu murid langsung K.H. Ahmad Dahlan, dan juga seorang abdi dalem ulama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. lahir di Kauman, Yogyakarta, 10 November 1883, dan wafat pada 20 Mei 1945.

Pada masa kepemimpinan Kyai Haji Hisyam, titik perhatian Muhammadiyah lebih banyak diarahkan pada masalah Pendidikan dan Pengajaran baik Pendidikan agama maupun Pendidikan umum. Selama 3 tahun Muhammadiyah di bawah kepemimpinannya telah mendapat kemajuan yang lebih pesat, terutama pada segi ketertiban organisasi dan administrasi dan juga perkembangan sekolah Muhammadiyah. Beliau mengusahakan peningkatan mutu pelajaran, diawasi dan ditelitinya guru-guru yang bertugas di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Kebijaksanaan KH. Hisyam dalam melancarkan usaha Pendidikan Muhammadiyah ialah modernisir sekolah-sekolah Muhammadiyah selaras dengan Policy Pendidikan pemerintah. Ini dimaksudkan agar mereka ingin memasukan putra-putrinya ke sekolah-sekolah umum, tidak usah merasa perlu harus memasukan kesekolah pemerintah Hindia Belanda. Lebih baik anak-anak itu belajar di sekolah Muhammadiyah yang selain mutunya sama masih dapat diawasi Pendidikan agamanya.

K.H. Hisyam selalu berusaha agar mutu sekolah Muhammadiyah tidak kalah dengan sekolah pemerintah. Walaupun harus menempuh persyaratan yang amat berat. Satu demi satu sekolah-sekolah Muhammadiyah itu mendapat pengakuan atau persamaan oleh pemerintah. Selain itu juga pemerintah Hindia Belanda juga memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah. Bantuan subsidi tersebut digunakan untuk memajukan sekolah-sekolah Muhammadiyah tempat anak-anak bangsa belajar mencari ilmu dan kemajuan. Jumlah sekolah Muhammadiyah saat itu yang dapat subsidi hanya 121 sekolah jauh lebih sedikit jika di banding sekolah yang dimiliki oleh Katolik 696 dan Protestan 1893 sekolah.

Hal tersebut disebabkan karena untuk memperoleh subsidi adalah sekolah sekolah yang atas dasar pemeriksaan dan penelitian telah mencukupi persyaratan baik gedung, kewenangan guru-guru, syarat penerimaan murid, kelengkapan alat-alat dan mempunyai harapan baik untuk maju pada masa depan. Jadi bukan membantu sekolah yang lemah agar menjadi berkembang maju. (red)

 

Sumber:

  1. Buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah untuk Indonesia berkemajuan, terbitan Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Cetakan pertama Oktober 2018. Halaman 160-162
  2. http://m.muhammadiyah.or.id/id/content-158-det-kh-hisyam.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *