Sejarah dan Hukum Puasa ‘Asyura (Tanggal 10 Muharram)

Segala puji bagi Allah ta’ala Rabb semesta alam. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.

Salahsatu ibadah yang sebaiknya dilakukan seorang mukmin pada bulan Muharram adalah puasa pada tanggal 10 (sepuluh). Bagaimana sejarah diyariatkannya puasa ‘Asyura?.

  1. Sejarah disyariatkannya puasa ‘Asyura

Puasa ‘Asyura adalah puasa yang sudah dilaksanakan terlebih dahulu oleh orang Yahudi, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata:

قدم النّبي – صلّى الله عليه وسلّم – المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يوم صالح، هذا يوم نجّى الله بني إسرائيل من عدوّهم، فصامه موسى – عند مسلم شكراً – فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: فأنا أحقّ بموسى منكم، فصامه وأمر بصيامه “.

“Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asyura. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Di dalam riwayat yang lain Aisyah radhiyallahu ‘anhaa berkata:

” كان يوم عاشوراء يوماً تصومه قريش في الجاهلية، وكان رسول الله – صلّى الله عليه وسلّم – يصومه، فلمّا قدم المدينة صامه، وأمر النّاس بصيامه، فلمّا فرض رمضان قال: من شاء صامه ومن شاء تركه “

“Dahulu orang Quraisy berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah sejarah disyariatkannya puasa pada tanggal sepuluh Muharram. Tetapi sebaik bagi seorang muslim pada saat ini dapat menambahkan puasa pada tanggal sembilan, atau disebut dengan puasa Tasu’a, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: (لمّا صام رسول الله يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول الله، إنّه يوم تعظمه اليهود والنّصارى، فقال: إذا كان عام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع، قال: فلم يأت العام المقبل حتّى توفّي رسول الله صلّى الله عليه وسلّم).

Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa ‘Asyura dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara!! Maka Rasulullah berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu” (HR. Muslim)

Dari riwayat di atas maka ada fase-fase disyariatkannya puasa ‘Asyura. Dan fase tersebut sebagai berikut:

  1. Selama berada di Makkah Rasulullah berpuasa ‘Asyura, tetapi belum disyariatkan kepada yang lainnya.
  2. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah memerintahkan sahabat untuk berpuasa.
  3. Setelah diwajibkan puasa Ramadhan, ada dua pilihan, boleh dilakukana dan boleh ditinggalkan.
  4. Di akhir kehidupan Rasulullah, beliau berazam untuk berpuasa pada tanggal 9, unk menyelisihi kebiasaan orang Bani Israil.
  5. Hukum puasa ‘Asyura

Hukum puasa ‘Asyura adalah sunnah, karena banyaknya hadits yang memperbolehkanseorang muslim untuk melakukan atau meninggalkannya, dan adanya hadits yang menjelaskan bahwa puasa ‘Asyura tidaklah wajib, seperti hadits di atas.

Namun sebagian ulama memakruhkan puasa sehari di tanggal 10 saja tanpa diikuti puasa sebelum, atau setelahnya, tetapi ada yang memperbolehkannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak makruh jika seorang berpuasa pada tanggal 10 (‘Asyura) saja, tetapi lebih baik diikuti dengan hari sebelumnya (tanggal 9) atau sesudahnya (tanggal 11) dan tidak hanya pada tanggal sepuluh saja. Tetapi kalau ada seorang muslim yang hanya bisa melaksanakan pada tanggal sepuluh, saja karena adalanya udzur maka hilang hokum makruh bagi dirinya, tetapi kalau tidak ada udzur sebaiknya diikuti dengan hari setelah atau sebelumnya, seperti pada hadits Ibnu Abbas”.

Ibnu Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad mengatakan bahwa puasa Arafah ada empat macam, yaitu:

  1. Puasa tanggal sepuluh saja (‘Asyura).
  2. Puasa tanggal Sembilan (Tasu’a) dan tanggal sepuluh (‘Asyura).
  3. Puasa tanggal sepuluh (‘Asyura) dan tanggal sebelas.
  4. Puasa tiga hari, tanggal 9, 10 dan 11.
  5. Keutamaan puasa ‘Asyura

Adapun keutamaan atau fadhilah dari puasa ‘Asyura adalah berdasarkan hadits berikut:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu”.

Dengan melaksanakan puasa ‘Asyura maka fadhilahnya adalah dihapuslkannya dosa setahun yang telah berlalu.

Ya Allah mudahkanlah kami untuk selalu beribadah kepada-Mu.

 

Al faqir ilallahi,

Sahman Abu Izaz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest